Kamis, 21 November 2019

Munasabah


Munasabah Ayat per Ayat Q.S Al-Waqi’ah 57-62


نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلا تُصَدِّقُونَ (57) أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (58) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ (59) نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (60) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ (61) وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الأولَى فَلَوْلا تَذَكَّرُونَ (62)

Artinya : Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan? Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?

Dalam rangkaian ayat tersebut, Allah menerangkan kuasa-Nya bahwa Allah sendirilah yang menciptakan manusia, bahkan tidak hanya menciptakan saja tetapi juga menentukan batasnya (takdirnya).

Selanjutnya kami akan mencoba menjelaskan tentang munasabah antar ayat dalam rangkaian ayat tersebut, untuk memudahkan kita dalam menghafal Al-Qur’an dan juga dalam memahami penafsirannya.

Pertama, Allah meggunakan kata (خلقناكم) Kami yang telah menciptakan kalian (kata Allah) baik kita percaya ataupun tidak, Allah telah menjelaskan bahwa Allah sendiri yang menciptakan kalian semua, lalu muncul dalam benak kita “di ciptakan dari/dengan apa?” jawaban tersebut akan kita dapatkan dalam ayat selanjutnya yaitu kata (تمنون) nutfah yang kamu pancarkan. Iya, kita di ciptakan dari Nuthfah, yaitu mengisyaratkan kepada kita bahwa kita pada mulanya adalah sesuatu yang tidak berharga (Nuthfah) dan pada akhirya juga sesuatu yang tidak bernilai pula (bangkai). Di ayat berikutnya Al-Qur’an menggunakan redaksi pertanyaan, apakah kalian sendiri atau Kami yang menciptakannya. Kita bertemu ayat (الخالقون) yaitu siapa yang menciptakan Nuthfah tersebut? Jawabannya adalah Allah. Setelah kita tahu bahwa kita tidak bisa ada dengan sendirinya, setelah tahu kita di ciptakan dari sesuatu yng tidak berharga, setelah kita tahu pula bahwa sesuatu yang berharga tadi pun kita tidak mampu membuat dengan sendirinya. Apakah masih tetap akan sombong?

Allah tidak hanya menciptakan kita, tetapi juga menentukan Takdir kita semuanya tersurat dalam Lauh al-Mahfuz, pemaknaan tersebut kita temukan dalam ayat berikutnya (قدّرنا) Kami telah menentukan. Yaitu Allah telah menetukan seberapa lama kita akan hidup dan kapan kita akan di wafatkan.

Setelah di wafatkan, lalu apa lagi? apakah Allah tidak akan kesepian? Jawabannya tentu saja Tidak, karena Allah sangat mampu untuk mengganti/membuat yang serupa dengan kita (نبدّل أمثالكم) menggantikan kamu dengan yang semisal kamu. Setelah Allah menjelaskan perjalanan kita tadi, lalu bagaimanakah sikap kita? Atau apa yang bisa kita ambil ibrah-nya atau hanya sebagai pengetahuan saja? Ternyata di jelaskan dalam rangkaian ayat terakhirnya (فلولا تذكّرون) mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Ayat ini berkaitan dengan hari kiamat yaitu hari dimana manusia yang sudah mati berjuta-juta tahun akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan amalannya selama hidup di dunia. Rangkaian ayat ini menjelaskan atau menyetir logika, bahwa kita sendiri pun di ciptakan dari ketiadaan, dan seperti itu pun Allah kuasa, apalagi mengembalikan sesuatu yang pernah ada (membangkitkan manusia yang sudah mati) tentu pasti lebih mudah.

Rangkaiannya yaitu kata (خلقناكم) Kami yang telah menciptakan kalian dari  (تمنون) nutfah yang kamu pancarkan, selanjutnya (الخالقون) yaitu siapa yang menciptakan Nuthfah tersebut? Jawabannya adalah pasti Allah. Apakah hanya di ciptakan saja lalu di biarkan? Ternyata tidak, Allah pula yang mentakdirkan kehidupannya (قدّرنا) Kami telah menentukan. Setelah kalian mati lalu apa yang terjadi? (نبدّل أمثالكم) menggantikan kamu dengan yang semisal kamu. Yaitu Allah menggantikan kamu dengan manusia yang lain. Lalu apa tujuan dari itu semua? Yaitu supaya kita dapat mengambil pelajaran (تذكّرون).

Wallahu A’lam....

Rabu, 16 Oktober 2019

Catatan Sowan Yai Syarif Rahmat,



Hasil gambar untuk kh raden syarif rahmat
Catatan Sowan Yai Syarif Rahmat,
Berawal dari niat mengundang beliau untuk mengisi Peringatan Maulid di Masjid kami, kami berkesempatan sowan ke Ndalem beliau meskipun jadwal beliau sudah padat dan tak bisa mampir di masjid kami, tapi tak apa alhamdulillah mendapat beberapa pelajaran.

Mulai tentang tafsir Isyari hingga memperbincangkan keadaan negara, kami akan menuliskan yang kami anggap pantas untuk dibagi saja. Beliau bercerita bahwa beliau sedang menulis semacam catatan tafsir yang mengarah pada Isyari, yang kadang tiba-tiba datang saat beliau entah dimana.

Salah satunya beliau menceritakan tentang ayat 27 Al-Qasas :
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Beliau menceritakan bahwa “إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ” mengisyaratkan adanya wali dalam pernikahan, wali tersebut yang menikahkan dengan kata “aku ingin menikahkanmu”. Beliau bercerita mendapatkan isyarat tersebut ketika ditanya imam besar Istiqlal tentang keresahannya marak nikah tanpa wali.

Adapun kata “أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ” menggambarkan adanya mahar dalam pernikahan dan kalimat setelahnya mengisyaratkan kebaikan calon pengantin untuk mengusahakan mahar terbaik “فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ”.

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ” mengandung isyarat bahwa calon mertua tidak diperbolehkan atau tidak dianjurkan untuk menuntut kepada calon menantu. Tetapi dalam kalimat sebelumya dianjurkan calon pengantin untuk mengusahakan mahar terbaik yang bisa dia usahakan.  Dalam catatan lain “Calon pengantin hendaknya mengusahakan mahara terbaik untuk istrinya, tetapi calon mertua seharusnya tidak menuntut sesuatu yang dapat memberatkan calon pengantin pria.”

Obrolan kita tetap berlanjut hingga kemana-mana, diantaranya beliau menjawab pertanyaan salah satu diantara kita bertiga. Cara memahamkan orang awam yang terjangkit faham radikal itu justru tidak mudah, karena keawaman mereka yang mereka jadikan standar, bahwa dia (yang dia anggap ulama’) yang sering muncul di TV maka itu yang dia jadikan standar.

Massivnya kelompok sebelah yang berfaham beda dengana kita disebabkan salah satunya karena diamnya orang yang mumpuni, dalam bahasa Gus Baha’ kita harus lebih massiv dari mereka jika pemikiran atau keyakinan kebenaran kita ingin di dengar orang lain, dalam era sekarang ya medsos itu, konten kita (moderat) harus lebih banyak tersebar dari yang selainnya.

Selanjutnya beliau bercerita tentan keadaan orang yang teraniaya bahwa “Ketika orang-orang yang benar tidak mampu berbicara (melawan), maka sebenarnya Allah sendiri yang akan turun tangan”.
Tukang sihir saat ini semakin meluas maknanya, bukan hanya pengertian tukang sihir pada masa lampau tetapi saat ini bisa di artikan tukang editing video, tukang manipulasi data dan lain sebagainya.

Dan kita doakan semoga beliau selalu diberikan kesehatan sehingga bisa membimbing kita selalu... Alfaatihah...

AM

Kamis, 12 September 2019

Bu Gendong Penyelamat




Perjalanan waktu dari lulus pendidikan menengah atas hingga waktu itu sudah berjalan enam tahun, tentu bukan waktu yang singkat untuk direncanakan sebagai jeda anatara pendidikan menengah dengan kuliah. Tapi begitulah kenyataannya, aku tidak menempuh jenjang pendidikan formal selama itu. Meski alhamdulillah bisa menetap di pesantren ­-dan itu banyak menempa diri ini untuk menjadi insan yang selalu memperbaiki diri- dan juga melakukan pendidikan non formal seperti kursus dsb.

Di awal setelah kelulusan, aku telah di tawarin bapak untuk memilih antara pesantren atau dunia intelektual formal yaitu kuliah. Waktu itu diriku mantap menjawab pesantren dan tidak aku sesali hingga sekarang. Perjalanan waktu begitu melenakan, tersadar sudah empat tahun terdampar di pesantren tahfidz yang waktu pertama diantar bapak aku tak tahu di pesantren harus melakukan apa, di iringi kepergianku dengan tangis bunda dan deraian air mata bapak juga saat berpamitan pulang setelah mengantarkanku ke pesantren.

Merasa menjadi orang yang paling malang karena harus jauh dari orang tua dan saudara, meski di kemudian hari akan terbiasa dengan lingkungan pesantren. Lantunan murottal, latihan makhraj, setoran yai, tongkrongan senior, dan jam wajib adalah hal yang ku rindukan kemudian hari. Setelah berjalan beberapa hari, setelah melakukan penelitian, aku mengetahui bahwa ini pesantren tempat menghafalkan Al-Qur’an, “aduh” kata hatiku. Tapi aku tak lantas menyerah, aku akan menjalani sebisanya, toh aku juga pernah berkeinginan hafal Al-Qur’an saat menyimak guru saya khataman bil Ghaib (membaca Al-Qur’an tanpa melihat).

Hal yang agak aneh lagi ketika diawal nyantri, ternyata disana tidak ada air matang ataupun galon. “Astagfirullah, piye ki carane ngumbe”. Oke aku masih kuat, bathinku. Beberapa saat aku membutuhkan kamar mandi untuk membersihkan sisa debu perjalanan, disitu aku melihat dengan nyata ada seorang santri meminum air dari kran bahkan santri yang lain meminum juga dari bak besar kamar mandi. Tanpa pikir panjang aku mengikuti cara mereka minum dan masya Allah ada sedikit rasa sabun... hahaha yowes rapopo, ga mati kok....

Betapa pahitnya awal nyantriku, hehe... cerita yang lain, di sekeliling pesantren ga ada yang kulihat jualan makanan, astagfirullah, aku lapar. Mau tanya ga berani, waduh derita santri anyar nih... selama hampir dua puluh empat jam nahan diri untuk ingin makan, karena ga berani tanya apalagi untuk keluar.... di jam ke dua puluh satu alhamdulillah ada ibu-ibu menjajakan makanannya di pelataran pondok yang kelak aku tahu teman-teman menamainya Bu Gendong, mungkin karena dia membawa jajanannya dengan di gendong.

Teruntuk semua yang berjasa mengantarkan aku ke pesantren, semua ustadz yang mengajariku di pesantren, teruntuk abah dan keluarga, semoga Allah senantiasa mencurhkan Rahmat-Nya... Al-Fatihah

To Be Continue.... insya Allah

Selasa, 03 September 2019

Aku Bosan Kuliah,-


Hasil gambar untuk wisuda iiq


Setiap orang pasti punya titik jenuh, begitu pula kita sebagai anak kuliahan. Rutinitas makalah, tahfidz, tugas lain, ngajar, mungkin benar-benar sangat membosankan dan melelahkan sekali, lebih enak dan asyik untuk selalu jalan atau touring dan sejenisnya. Tapi kita semestinya ingat dan sadar bahwa jutaan orang diluar sana ingin sekali mempunyai posisi seperti kita. Oke, sekarang kita sudah semester berapa? Apa yang sudah di dapat? Sudah bisa apa? Apa kontribusimu untuk negara dan agama? Kita akan dimintai pertanggung jawaban itu, kalau tidak didunia ya kelak di akhirat.

So, marilah kita merenung dan beramal nyata disisa masa aktif kita di perkuliahan. Mari kita selesaikan apa yang mustinya kita rampungkan, mari membuat orang tua bangga dan bahagia dengan lulus tepat waktu dan lulus predikat baik.

Betapa banyak nikmat yang kita sandang, nikmat melihat, mendengar dan masih banyak yang lain. Kaka tahu, dulu ada seorang anak yang lahir dalam keadaan tunanetra namanya Qasim ibnu Firruh, dan itu tidak menghalanginya untuk belajar. Dia kelahiran Andalus dan belajar hingga ke mesir, dia tidak hanya pandai fan bahasa arab akan tetapi juga mahir dalam hadist dan terkenal kepiawaiannya pada bidang Ilmu Qira’at. Dia mengarang Nazam yang berjumlah seribu lebih. Dari keadaan tunanetra hingga mulia, Imam Syatibi julukannya... lalu bagaimana dengan kita? Masih pantaskah kita mengeluh?

Mari maksimalkan nikmat yang t’lah di anugerahkan Allah untuk kita, nari sukseskan semester akhir semoga Allah menilai kita termasuk hamba yang husnul khatimah... mari maksimalkan nikmat ini untuk semakin menuntun kita bahwa rahmat Allah begitu luas, bahwa ilmu Allah begitu Luas...
Semoga Allah memberi kita kekuatan dan kemudahan...

Senin, 02 September 2019

Aku dan Harapan Ibu



Kebiasaan Ahmad telpon ibu minimal sepekan sekali menyesuaikan jadwal Ahmad sendiri maupun ibu. Senin 26/08 pun seperti hari biasanya, penundaan telpon yang biasanya dilakukan dimalam ahad harus tertunda tetapi tidak mengurangi keasyikan cengkramanya rindu anak kepada ibunya dan rindu seorang yang telah mengandung dia kepadanya.

Setelah saling bertanya kabar antara negara Jakarta dengan negara Pati. Hehe mulailah perbincangan yang serius tapi santai juga, mulai menanyakan tentang teman dekat dan bagaimana ke depannya, “entah bu, belum terlihat” kataku... 

Untuk mengalihkan perhatian ibu, aku bertanya-tanya tentang hal yang  sama sekali berbeda dengan hal tersebut, “Bu, Cerita tentang aku kecil dong.hehe’ Apa ya le? Saya pancing, ibu pernah cerita bekerja di pabrik dan jarang mendengarkan adzan atau ibu pernah bekerja kepada orang yang non muslim tapi baik. O ya ya, mendengar adzan itu anugerah yang besar le, sepantasnya orang muslim itu merindukan adzan. “Aku kalau dengar adzan malah gantuk bu, hehe”. Ga boleh seperti itu,- kamu akan merasakan rindu sekali dengan adzan ketika kau berada dalam keadaan sulit mendengarkannya, misal di negara yang muslim minoritas. Ibu juga pernah mengalami dua tahun jarang sekali mendengarkan adzan, satu yang ibu ingat yaitu ketika waktunya berbuka dan di ajak tuan/majikan ke menara kembar di malaysia, dan disitu ibu mendengarkan adzan, terharu intinya,,,

Apa lagi bu? Pertanyaan manja khas anak kecil yang siap mendengarkan dongengan ibunya. “Suatu ketika ibu pernah diajak Mbah.mu nyimak orang khataman di Sekar (nama sebuah desa yang terletak dekat dengan desaku), disitu sambil haru ibu Mbathin, betapa senengnya jika salah satu anak ibu kelak ada yang memiliki fadhal untuk menghafalkan kalam mulya itu, dan alhamdulillah ahmad jawaban dari do’a ibu waktu itu”. Suasana menjadi sedikit hening, “bu, Ngapunten aku belum bisa istiqamah...”

Kesuksesan seorang anak pasti banyak andil dari kedua orang tuanya, So, ga usah sombong. Coba selalu muhasabah diri dan temukan keadaan terbaikmu... ibu, Ahmad minta slalu didoakan ibu, mugi-mugi saget Istiqamah....Semoga ibu, bapak dan adik-adik selalu dalam lindungan Allah..... 

Kamis, 18 Juli 2019

“Ayahku Pahlawanku”


Hasil gambar untuk bayi lucu
Aku, Ahmad anak pertama dari tiga bersaudara sekarang. Konskuensi anak pertama biasanya lahir dalam kondisi keluarga yang belum mapan, baik secara finansial maupun yang selainnya. Sebelum kesana, aku dilahirkan dari keluarga sederhana tidak terlalu miskin meski tidak juga kaya. Menurut cerita yang aku dapat, aku dilahirkan dirumah mbah (kakek/nenek) dari jalur ibu. bukan di Rumah sakit (maklum dulu belum ada kewajiban melahirkan di RS) bukan pula dirumah sendiri. Kelahiran dirumah mbah untuk anak pertama di daerah Gembong Pati sangatlah wajar, bisa jadi karena rumah bapak ibuku belum layak atau bisa jadi karena kelahiran anak pertama bapak/ibu belum berpengalaman sehingga cari cara aman saja yaitu dirumah Mbah. Itu spekulasi aku kok, tapi kayaknya ada benarnya juga sih..hehe

Aku mendapatkan nama bagus “Ahmad Munthaha (أحمد منتهى)” lagi-lagi menurut cerita yang aku dapat. Hehe. Nama itu dari adiknya kakek, yang berarti kakek saya juga meski tidak secara langsung. Ada cerita menarik yang meliputi Ahmad kecil, Ahmad dilahirkan kira-kira di akhir bulan Sya’ban antara tanggal 25/26. Dia dilhirkan bersama pamannya, adik dari ibu.

Di masa-masa bayi, Ahmad setiap malam menangis terus hingga mencapai hitungan empat puluhan hari, hehe. Katanya ibu, nemenin tahajjud. Wkwk... karena saking jengkelnya mbah bercanda agar Ahmad kecil tinggal aja, “nanti juga kalau capek diam sendiri”. Dengan keadaan mele’an terus setiap malam itu membuat bapak ibu tidak tidur karena menemani Ahmad kecil bergadang. Hingga ada cerita saking capeknya bapak ibu hingga luput menjaga Ahmad kecil dan saat bangun ibu kaget karena Ahmad sudah tidak ada ditengah mereka tidur, setelah beberapa lama dicari ternyata di culik Mbahnya karena nangis dan bapak ibunya ketiduran. Hehehe lucu ya?

Sering juga bapak ibu kesiangan untuk sahur karena selalu menemani Ahmad kecil Nangis hingga hampir menjelang sahur, dalam posisi capek setelah menemani Ahmad, mereka tertidur dan sering kali kelupaan untuk sahur. Hehe kasian juga bapak ya,- puncaknya, karena sudah sangat lama nangis tiap malam, akhirnya Ahmad harus dibawa untuk mengahadap orang pintar “Wong Pinter”. Dari kunjungan tersebut bapak disarankan untuk mengganti namanya dari Ahmad Munthaha ke Nur Rahmat, disitulah saya melihat teguh pendiriannya bapak (tentu memperhatikannya setelah aku dewasa dong, masak ketika kanak-kanak). Bapak tetap mempertahankan nama Ahmad Munthaha dan tidak pernah menggantinya hingga saat ini. Thank’s for my dad n’ my mom.... love you....... to be continue Insya Allahh.... Al-Faatihah

Makna Pernikahan Dalam Al-Qur’an




Secara bahasa Nikah berasal dari kata na-ka-ha yang berarti indamma (bergabung) jama’a, wata’un ( Hubungan Kelamin) dan aqdun (perjanjian).[1]

Menurut Quraish Shihab, Al-Qur’an menggunakan kata النكاح untuk makna “nikah” dan “perkawinan”. Di samping secara majazi diartikannya dengan "hubungan seks". Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 23 kali. Secara bahasa pada mulanya kata nikah digunakan dalam arti "berhimpun". Al-Qur’an juga menggunakan kata zawwaja dan kata zauwj yang berarti "pasangan" untuk makna di atas. Ini karena pernikahan menjadikan seseorang memiliki pasangan. Kata tersebut dalam berbagai bentuk dan maknanya terulang tidak kurang dari 80 kali.[2]

Dalam Al-Quran ada dua kata kunci yang menunjukkan konsep pernikahan, yaitu zawwaja dan kata derivasinya berjumlah lebih kurang dalam 20 ayat dan kata nakaha derivasinya sebanyak lebih kurang dalam 17 ayat.[3] .Yang dimaksud dengan nikah dalam konteks pembahasan ini adalah ikatan (aqad) perkawinan. Perlu pula dikemukakan bahwa Ibnu Jini pernah bertanya kepada Ali mengenai arti ucapan mereka nakaha al-mar’ah,  Dia menjawab : “orang-orang Arab menggunakan kata nakaha dalam konteks yang berbeda, sehingga maknanya dapat dipisahkan secara halus, agar tidak menyebabkan kesimpangsiuran. Kalau mereka mengatakan nakaha fulan fulanah, yang dimaksud adalah ia menjalin ikatan perkawinan dengan seorang wanita. Akan tetapi apabila mereka mengatakan nakaha imraatahu, yang mereka maksudkan tidak lain adalah persetubuhan.[4] Lebih jauh lagi al-Karkhi berkata bahwa yang dimaksud dengan nikah adalah ikatan perkawinan, bukan persetubuhan. Dengan demikian bahwa sama sekali tidak pernah disebutkan dalam Al-Quran kata nikah dengan arti wati’, karena Al-Quran menggunakan kinayah. Penggunaan kinayah tersebut termasuk gaya bahasa yang halus.[5]

Sedangkan menurut KBBI nikah berarti ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Dalam KBBI Harmonis bersangkut paut dengan (mengenai) harmoni; seia sekata dan keharmonisan berarti keserasian dan keselarasan.
Tujuan Utaman Pernikahan adalah kumpulnya. itulah sebabnya perintah nikah menggunakan kata Na-Ka-Ha. Maka menjalani hubungan setelah pernikahan dengan jarak jauh sangat rentan merenggangkan hubungan. Selain hanya karena permasalahan hubungan badan, lebih dari itu kecenderungan manusia dewasa adalah hidup berdampingan dengan lawan jenisnya, dalam hal ini istri.

Disisi lain banyak yang menggemborkan bahkan memperbolehkan pernikahan sejenis, Pernikahan sejenis ini tentunya dipatahkan oleh Al-Qur’an kata : Za-Wa-Ja. Za-Wa-Ja artinya berpasangan dan sejenis tentu bukan berpasangan. Pernikahan sejenis selain ke Mudharatannya untuk dirinya sendiri, itu juga akan berdampak terhadap lingkungannya. Rujuklah ke kisah kaum Nabi Luth.

Secara umum Al-Qur’an hanya menggunakan dua kata ini untuk menggambarkan terjalinnya hubungan suami istri secara sah. Memang ada juga kata wahabat (yang berarti "memberi") digunakan oleh Al-Qur’an untuk melukiskan kedatangan seorang wanita kepada Nabi saw. dan menyerahkan dirinya untuk dijadikan istri. Tetapi agaknya kata ini hanya berlaku bagi Nabi saw. Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS Al-Ahzab/33: 50.

            Artinya: “Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu[6]

“Hanya Khusus bagimu, bukan untuk semua orang mukmin”. Merupakan penegasan bahwa hal tersebut khusus untuk nabi Muhammad Saw. Bahkan, melakukan akad nikah dengan menggunakan kata “Hibah” pun tidak didenarkan oleh ulama’-ulama’ kecuali ulama bermadzhab Abu Hanifah, tetapi apabila perempuan menawarkan diri agar dinikahi, bukanlah hal yang terlarang asalkan Syarat dan Rukun terpenuhi.[7]


[1] Al-Ahsfahani, Mufradat Fi Gharib Al-Qur’an, (ttp) Juz II, Hal. 653
[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al- Qur’anTafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet. XII; Bandung: Mizan, 2001), h. 191
[3] Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras  1987, hal 332 dan 718
[4]  al-Fakhr al- Razi.Tanpa Tahun. Al-Tafsir al-Kabir. Teheran :Dar al-Kutub alIlmiyat.
[5] Muhammad Ali as-.Sabuni. Rawai’ al Bayan :Tafsir Ayat al-Ahkam min Alquran. Kuwait : Dar Alquran al-Karim. 1972 Hal 258
[6] Al-Qur’an dan Terjemah, Mushaf Fami Bisyauqin. Forum Pelayanan Ummat, Cet ke 5, Hal. 424
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati 2009) Volume. 10 Hal. 515