Rabu, 31 Oktober 2018

Khutbah 02.11





الحمد لله                  ..                       تقديرا  ..خلق             يبتليه           ..ثمّ هَدَاهُ السَّبيلَ إِمّا شاكِرًا وَإِمّا كَفورًا ..فمن شكر كان جزاؤه جنة وحريرا ونعيما وملكا كبيرا ..ومن كفر لم يجد له من دون الله وليّا ولا نصيرا ..نحمده تبارك وتعالى حمدا كثيرا, ونعوذ بنور وجهه الكريم من يوم كان شرّه مستطيرا..ونسأله أن يلقّينا يوم الحشر نضرة وسرورا .. وأن يظلنا بظل عرشه حيث لا نرى شمسا ولا زمهريرا .. وأشهد أن لاإله إلا الله شهادة تجعل الظلمة نورا .. وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده المرسل مبشِّرًا ونذيرًا.. وداعيًا إلى الله بإذنه وسراجًا منيرًا.. قُرئ عليه القرآن ففاضت بالدمع عيناه، وكان ما تقدم وما تأخر من الذنب مغفورًا.. قام الليل حتى تورَّمت قدماه، وقال: أفلا أكون عبدًا شكورًا.. اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه تسليما كثيرا ..عدد أنفاس مخلوقاتك شهيقًا وزفيرًا...
أما بعد : فيا أيها النّاس اتقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون.

Ayyuhal ‘Ibad, Wahai sekalian hamba-hamba Allah, takutlah kepada Allah! Bertakwalah kepada Allah! Dan ketahuilah kasih sayang Allah, cinta Allah itu dekat dengan mereka orang yang takut dan takwa kepada Allah Swt. ambil, gali dan timbalah takwa dari Nabi Muhammad Saw. Barang siapa yang takwanya tidak mengambil dari Nabi Muhammad, maka itu hanya takwa yang palsu dan hayalan belaka. Sebab Rasulullah menyebutkan didalam hadist sambil menunjuk ke dada beliau, sanubari beliau, yang di sebut oleh Allah didalam Al-Qur’an “ألم نشرح لك صدرك” bukankah telah kami lapangkan, gembirakan hatimu, dadamu, sanubarimu? Dan sesungguhnya Rasulullah menunjuk ke dadanya, sanubarinya yang telah dilapangkan dan diisi oleh Allah, beliau mengatakan “التّقوى هاهنا” tiga kali beliau menunjuk dadanya sambil berucap “Takwa di dalam sini” kata Rasulullah Saw. Dalam Shahih Bukhari beliau menyatakan “إنّ أعلمكم بالله وأتقاكم به أنا ” yang paling berilmu kepada Allah, yang paling takwa kepada Allah, yang paling mengenal takut kepada Allah adalah Aku “kata Rasulullah Saw.”

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah, kita sebagai makhluk sosial mempunyai dua hal yang keduanya penting, da tidak boleh mendahulukan yang satu dan mengakhirkan yang lain yaitu Hablun Min Allah dan Hablun Min an-Nas.
Dalam Al-Qur’an surat Ali Imron: 112 Allah SWT berfirman
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah SWT dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah SWT dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah SWT dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”
Meskipun ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yahudi yang tidak memenuhi Hablun min Allah dan Habl Min an-Nas. Ayat ini menjelaskan keadaan mereka setiap waktu Yaitu bahwa: Mereka diliputi, yakni ketundukan akibat kekalahan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada Allah, yakni ajaran agama-Nya, atau tunduk membayar jizyah (pajak) sebagai warga negara yang berhak memeroleh keamanan setelah tunduk pada pemerintahan Islam dan tali dengan manusia, yakni pembelaan dari kelompok manusia.
Namun ayat ini juga bisa kita ambil ibrah atau pelajaran pula, karena ada satu kaidah yang bisa kita terapkan yaitu “al-Ibrah bi umum al-Lafdz la bi Khusus as-Sabab.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,...
Hablum minallah menurut bahasa berarti hubungan dengan Allah SWT. Namun dalam pengertian syariah makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari adalah “Perjanjian dari Allah.
:"إلا بحبل من الله"، قال: بعهد ="وحبل من الناس"، قال: بعهدهم.
Maksudnya adalah masuk Islam atau beriman sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat. Sehingga dapat kita pahami bahwa untuk membangun hubungan kita kepada Allah, kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak-hak Allah, lalu apakah hak-hak Allah SWT itu?
Hak-hak Allah SWT ialah mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain serta menjalankan syariat Allah SWT. Misalnya: shalat, puasa dan sebagainya.
Tetapi apakah hanya cukup dengan menjalin hubungan dengan Allah semata? Hanya shalat, puasa, Haji dan ibadah ritual yang lainnya tanpa di imbangi dengan implikasi yang muncul dari ibadah itu? Jawabannya adalah tidak. Tidak sempurna islam seseorang iman seseorang hanya dengan itu.
Sebagaimana kita tahu “al-Muslim man salima al-Muslimun min Lisanihi wa yadihi” bahwa muslim yang baik adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya. “لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه” tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,...
Kita tahu bahwa kita sebagai makhluk sosial kita tidak akan bisa lepas dari membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Oleh karena itu, kita harus mencari tuntunan al-Qur’an mengenai hal-hal apakah yang boleh kita bantu dan tidak boleh.
وتعاونوا على البرّ والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان
“Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan Takwa, jangan tolong menolong dalam keburukan dan dosa.”
Jika kita perhatikan, banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyandingkan hak Allah dengan hal-hal yang berhubungan sosial kita, satu misal Allah menyandingkan Shalat dengan Zakat (وأقيموا الصّلاة وأتوا الزّكاة), menyandingkan Tauhid dengan Birr al-Walidain Q.S an-Nisa : 36.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan dengan dua orang ibu-bapak, (persembahkanlah) kebajikan yang sempurna, dengan karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong membangga-banggakan diri.”

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,...
Ayat diatas mengisyaratkan kepada kita, bahwa hubungan kita dengan Allah dan juga hubungan kita dengan sesama harus baik pula. Shalat kita harus mampu mencegah perilaku buruk kita, puasa kita harus bisa menciptakan rasa belas kasih terhadap sesama dan ibadah-ibadah kita yang lainnya mampu menuntun kita kepada sikap-sikap santun bukan sebaliknya membuat kita angkuh dan sombong.

Semoga Shalat kita adalah Shalat yang mampu mengantarkan kita pada “تنهى عن الفحشاء والمنكر” mencegah keburukan dan kemungkaran. Semoga puasa kita adalah puasa yang bisa menghadirkan rasa kasih sayang dan cinta terhadap sesama. Dan semoga semua ibadah kita adalah ibadah yang mempu membuat kita semakin tawadhu karena semakin tahu tentang Allah, bukan ibadah yang justru membuat kita sombong.

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣
بَارَكَاللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَ الذِكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.


اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ به وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله ... اتقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون.
فيا ايها المسلمون واعلموا ان الله سبحانه وتعالى امركم بامر بدأ فيه بنفسه وثنى بملاءكته المسبحة بقدسه فقال تعالى فى كتابه العظيم " ان الله وملاءكته يصلون على النبي يا ايها اللذين امنوا صلوا عليه وسلموه تسليما "
 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ .... أقيموا الصّلاة


Minggu, 07 Oktober 2018

Khutbah Jum'at 7/9/18

"Aktualisasi Hijrah"

Tema Khutbah Jumat di Masjid Bayt Al-Qur'an kali ini 7/9/18 adalah Aktualisasi Hijrah oleh Prof. Dr. D Hidayat, MA. Beliau merupakan salah satu dewan pakar pusat studi Al-Qur'an (PSQ).

Beliau menyampaikan bahwa pada mulanya ada semacam keresahan di kalangan sahabat nabi tentang tiadanya tahun yang bisa dibuat sebagai tanda ummat Islam, Karena hanya ada tahun Masehi. Disebut Masehi karena perhitungannya dimulai dari kelahiran Isa Al-Masih, Atau disebut juga tahun syamsiyah karena perhitungan harinya berdasar pada revolusi bumi terhadap matahari.

Berawal dari keresahan tersebut maka Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat senior untuk rapat penentuan kalender Islam. Ada beberapa pendapat dalam penetapan awal perhitungan kalender Islam tersebut, diantaranya berpendapat di hitung sejak nabi Muhammad lahir, pertama kali diutus, saat hijrah dan mulai dari hari wafatnya. Terjadilah kesepakatan dimulainya perhitungan kalender Islam dari hijrahnya Rasulullah ke Madinah.

Dipilih peristiwa tersebut salah satunya karena itu adalah peristiwa agung yang memisahkan antara haq dan bathil. Disebut kalender Hijriyah karena perhitungan tahunnya di mulai dari hijrahnya Nabi Muhammad. Disebut kalender Qomariyah Karena perhitungan harinya berdasar pada revolusi bulan terhadap bumi.

Menurut beliau paling tidak ada tiga hal yang dapat kita ambil dari hikmah Hijrah Nabi yang agung itu. Pertama adalah semangat perjuangan, karena mempertahankan tauhid, nabi dan para sahabat tidak kehabisan akal saat mendapatkan intimidasi dari musyrik makkah. Justru semakin semangat dan hingga memutuskan untuk berdakwah ke Madinah, yang paling penting adalah ajaran tauhid sampai kepada manusia.

Kedua, semangat berkurban. Tentu kita tahu bahwa dalam hijrahnya Nabi Muhammad dan para sahabatnya itu tidak serta merta mereka bisa membawa kekayaannya. Justru mereka tinggalkan di makkah. Mereka juga sedia berkurban meninggalkan rumah dan kampung halamannya bahkan meninggalkan lahan bisnisnya.

Ibrah yang selanjutnya adalah memiliki jiwa optimis. Yakin bahwa yang Hak akan menang dan yang bathil akan lenyap. Dan kita tahu pada akhirnya Islam jaya hingga saat ini.

Dalam momentum tahun baru Hijriyah ini marilah kita muhasabah dan terus memperbaiki kualitas diri kita...


#Jum'atMubarak
#Jum'atanDiBaytAl-Qur'an

Makalah Met. Pengajaran Al-Qur'an


PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh penciptanya dengan keadaan sebaik-baik ciptaan (Ahsani Taqwim), dia dilahirkan ke bumi ini dengan membawa potensi-potensi alamiyyah yang akan membawanya kepada derajat yang lebih mulia apabila di asahnya. Diantara potensi yang dibawa sejak lahir itu adalah pendengaran, penglihatan dan rasa / hati (QS.16.78).
Dengan adanya potensi alamiyyah tersebut maka kita diharuskan untuk menumbuh kembangkannya dengan cara apapun, salah satunya dengan belajar. Karena dari pross belajar inilah manusia akan mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya di dunia ini. Oleh sebab itu pula maka nabi mengajarkan “ajarkanlah kepada anak-anakmu dengan tiga hal: mencintai nabinya, mencintai keluarganya dan membaca Al-Qur’an (Hadist)” dan masih banyak dawuh-dawuh Nabi yang lain yang senada dengan itu.
Dalam kaitannya dengan ummat islam maka ada hal yang harus ditanamkan sejak anak-anak adalah mempelajari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kitab suci ummat islam kitab petunjuk dalam hal keagamaan sekaligus kitab petunjuk dalam ilmu pengetahuan.
2.      Rumusan Masalah
a.       Definisi Pengajaran Al-Qur’an
b.      Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur’an
c.       Cara-Cara Mengajar Al-Qur’an

PEMBAHASAN
1.      Definisi Pengajaran Al-Qur’an
Sebelum membahas tentang pembelajaran Al-Qur’an, terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian dari istilah tersebut. Pembelajaran Al-Qur’an terdiri dari dua kata yakni “kata pembelajaran”dan “kata Al-Qur’an”. Kata pembelajaran yang kami analisa adalah pembelajaran dalam arti membimbing dan melatih anak untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata pembelajaran, sebelumnya dikenal dengan istilah pengajaran. Dalam bahasa arab di istilahkan “ta’lim” dalam kamus inggris elias dan Elias (1982) diartikan “to teach; to educated; to intruct; to train” yaitu mengajar, mendidik, atau melatih. Pengertian tersebut sejalan dengan ungkapan yang dikemukakan Syah (1996), yaitu “allamal ilma”. Yang berarti to teach atau to intruct (mengajar atau membelajarkan).
Untuk memahami definisi dari pengajaran Al-Qur’an maka perlu kita carikan arti kata dari pengajaran dan Al-Qur’an itu sendiri. Banyak sekali definisi pengajaran menurut banyak ahli, diantaranya: Menurut KBBI Pengajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pengajar juga diartikan sebagai interaksi belajar dan mengajar, pengajaran berlangsung sebagai suatu proses yang saling mempengaruhi antara guru dan murid.
Sedang menurut Mahanni Rajali Pengajaran ialah aktivitas-aktivitas yang bertujuan dan memiliki tujuan dimana guru berbagi informasi dengan mahasiswa untuk memungkinkan mereka menyelesaikan sesuatu tugas yang tidak bisa diselesaikan sendiri sebelumnya.
Menurut Komaruddin, Pengajaran merupakan suatu proses penanganan urusan untuk memungkinkan siswa mengetahui atau menyelesaikan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan sendiri sebelum itu.[1] Sedang menurut hemat penulis pengajaran merupakan interaksi antara seorang pengajar dan orang yang diajar untuk berbagi informasi yang mungkin belum diketahui sebelumnya.
Adapun pengertian mengenai Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabinya (Muhammad) yang lafadznya mengandung mukjizat, membacanya merupakan ibadah yang diturunkan secara mutawatir, yang ditulis pada mushaf yang diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri an-Naas.[2]
Dengan demikian maka pengajaran atau pembelajaran Al-Qur’an adalah interaksi antara guru dan murid dalam mempelajari AL-Qur’an. Dalam mengajar Al-Qur’an, ada beberapa aspek yang mungkin bisa dipelajari diantaranya yaitu: Membaca, menulis, menghafal, menerjemah, tafsir, perbedaan cara baca dan mungkin masih banyak hal yang bisa digali darinya.
Tidaklah keliu bahwa Al-Qur’an dinyatakan dengan ktab pendidikan. Hampir semua unsur yang berkaitan dengan kependidikan disinggung dengan tersurat maupun tersirat oleh Al-Qur’an. Rasul Saw yang menerima dan bertugas untuk menyampaikan dan mengajarkannya, menamai dirinya Guru “Bu’istu Mualliman” demikian sabda beliau.[3]
sejak dini al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam wahyu pertama (Iqra’) bahwa ilmu yang diperoleh manusia diraih dengan dua cara. Pertama upaya belajar mengajar, dan kedua anugerah langsung dari Allah berupa ilham dan intuisi.[4]
Ada dua ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pendidikan yang penulis ingin coba angkat, pertama QS. 01. 151. Dan QS. 62. 02.
                                     
                                                           

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kamu) Kami telah mengutus kepada kamu Rasul dari kalangan kamu. Dia membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu al-Kitâb dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

“Dia-lah yang telah mengutus pada al-Ummiyyîn seorang Rasul dari mereka; membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan mereka serta mengajarkan kepada mereka kitâb dan hikmah padahal sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Dari kedua ayat diatas terlihat sepintas ada perbedaan dari ayat satu dengan yang lain, diayat Al-Baqarah Allah menerangkan Tilawah, Tazkiyah, Ta’lim. Sedang dalam ayat yang lain Tilawah, Ta’lim, Tazkiyah. Ini mengisyaratkan bahwa awal pertama kali dalam belajar Al-Qur’an adalah Tilawah atau membaca, sedang yang selanjutnya Tazkiyah dan Ta’lim harus berjalan dengan beriringan. Pada saat belajar atau Ta’lim, harus juga disertai dengan Tazkiyah atau pembersihan diri.
Karena sebagaimana kita tahu bahwa ilmu adalah cahaya  seperti diungkapkan imam waki’ kepada muridnya yaitu Imam Syafi’i “sesungguhnya ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan menunjukkan untuk orang yang bermaksiat (tidak bertazkiyah)
2.      Keutamaan Belajar Mengajar Al-Qur’an
Setiap ummat mempunyai kitab suci; injil, taurat, zabur dll. Tetapi ummat islam meyakini bahwa kitab-kitab tersebut sudahlah tidak berlaku hukumnya. Sedang ummat islam mempunyai kitab sucinya yang abadi sepanjang zaman. Maka wajib bagi ummat islam mempelajarinya. Diantara keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an sangat banyak sekali dalil yang dapat kita jumpai. Diantaranya yang sangat masyhur Hadist Nabi yang diriwayatkan melalui sahabat Ustman Ra.:
عن عثمان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ( خيركم من تعلم القرآن وعلمه )[5]

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Dalam hadist tersebut mengandung makna bahwa belajar Al-Qur’an saja belum cukup, tetapi juga harus mengajarkan kepada orang lain.
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول الرب عز و جل من شغله القرآن وذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين وفضل كلام الله على سائر الكلام كفضل الله على خلقه[6]

Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya”. (Riwayat Tirmidzi)
Dari hadist tersebut, dapat kita fahami bahwa belajar dan mengajar Al-Qr’an, hingga hidup kita tersibukkan hal tersebut maka Allahlah yang akan menjadi jaminan hidup kita. Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an yang dapat kita gali dari riwayat-riwayat yang lain.
3.      Cara-Cara Mengajar Al-Qur’an
Pada setiap fan ilmu, tentu ada cara yang pas bagaimana cara dan strategi mengajar ilmu tersebut, begitu juga dalam mengajarkan Al-Qur’an. Ada cara-cara yang tepat untuk belajar dan mengajar Al-Qur’an supaya efektif. Memang untuk masa saat ini banyak sekali cara yang berkembang dalam belajar mengajar Al-Qur’an, baik metode-metode yang ditawarkan, misalkan Qira’ati, Tilawati, Yanbu’a, Iqro’, dan lain sebagainya.
Kita tentu banyak mengetahui banyak sekali metode yang ditawarkan saat ini untuk belajar Al-Qur’an, mulai bagaimana cara membaca hingga bagaimana menghafal, yang mana telah ditawarkan mushaf Tikrar yang disana difasilitasi tanda pengulangan dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah kita bayangkan bagaimana cara para sahabat Nabi belajar Al-Qur’an dizamannya? Yang mana belum ada mushaf yang utuh seperti saat ini.
Namun disini penulis ingin menyajikan metode-metode yang digunakan para sahabat yang notabenenya dapat legalitas dari Nabi sendiri. Diantara metode belajar Al-Qur’an sahabat kepada Nabi adalah dengan belajar sepuluh ayat dan tidak lebih,
قال أبو عبد الرحمن السلمي : حدثنا الذي كانوا يقرئوننا القرآن كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما ، أنهم كانوا إذا تعلموا من النبي صلى الله عليه وسلم عشر آيات ، لم يجاوزوها ، حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل ، قالوا : فتعلمنا القرآن والعلم والعمل جميعا[7] 

         Dari Abi Abdurrahman as-Sulami, ia berkata, “Para pembaca Al-Qur’an semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dll, bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah 10 ayat. Mereka tidak menambahnya sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Al-Qur’an, memahaminya, sekaligus.
Dari sini kita tahu meski para sahabat adalah orang-orang istimewa yang mendapatkan pelajaran langsung dari nabi, namun mereka tidak ngebut-ngebutan ingin cepat selesai, namun mengikuti dengan sabar dan ulet belajar Al-Qur’an. Mereka tidak akan melanjutkan ayat ke-11 sebelum mereka memahami betul dan mengamalkannya. Berbeda halnya dengan kita saat ini yang justru bangga dengan singkatnya waktu yang kita tempuh untuk mempelajari Al-Qur’an, karena kita belum mampu merasakan nikmatnya bersama Al-Qur’an tetapi merasa nikmat setelah belajar Al-Qur’an yang otomatis sudah berlalu dari Al-Qur’an itu sendiri.
Cara belajar sahabat Nabi yang ke-dua adalah dengan menghafalkannya dan memahami makna yang diajarkan oleh Nabi. Tentu kita tahu bahwa mereka adalah orang arab, namun kita juga tahu bahwa tidak semua bahasa Al-Qur’an ter-cover dengan bahasa arab pada masa mereka hidup, justru bisa saja Al-Qur’an menggunakan bahasa sebelum mereka, maka mereka perlu mempelajarinya pula. Atau ada kata-kata yang perlu mendapat penjelasan khusus dari nabi, maka mereka akan bertanya sesuatu yang tidak mereka tahu kepada Nabi.
Al-Qur’an benar-benar turun dalam masa 20 tahun lebih. Terkadang turun satu ayat, dan terkadang turun sampai beberapa ayat (10 ayat). Dan saat turun ayat maka dihafal dalam akal dan dijaga dalam hati. Umat arab dahulu tekenal dengan karakteristik daya nalar yang kuat. Karena pada umumunya buta huruf sehingga penulisan kabar, syair syair mereka catat dalam hati.
Imam al-Bukhari mengemukakan dalam kitab shahih-ya bahwa ada tiga riwayat yang menyebutkan tujuh hafizh. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal (pernah jadi budak Abu Hudzaifah), Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda. Tiga riwayat itu yaitu:

a.       Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خذوا القران من اربعة : من عبد الله بن مسعود و سالم و معاد
و ابي نب كعبوهؤلاء الاربعة : اثنان من المها جرين هما : عبد الله بن مسعود و سالمواثنان من الانصار هما : معاذ و ابي.
b.      Dari Qatadah berkata:

سالت انس بن مالك : من جمع القران على عهد رسول الله؟ فقال : اربعة , كلهم من الانصار : ابي بن كعب ومعاد بن جبل و زيد بن ثابت و ابو زيدقلت : من ابو زيد ؟ قال : احد عمومتي.
c.       Diriwayatkan dari jalan Tsabit dari Anas berkata:

مات النبي صلى الله عليه وسلم ولم يجمع القران غير اربعة : ابو الدرداءومعاذ بن جبل وزيد بن ثابت وابوزيد.

Abu Zaid yang disebutkan dalam beberapa hadis diatas, penjelasannya terdapat dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Ibn Hajar dengan isnad yang sesuai dengan persyaratan Imam Bukhari. Menurut Anas, Abu Zaid yang hafal al-Qur’an itu nama aslinya Qais bin Sakan. Kata beliau: Ia adalah seorang laki-laki dari suku Bani ‘Adi Ibn an-Najar dan termasuk salah satu dari paman kami. Ia meninggal dunia tanpa memiliki anak sehingga kamilah yang mewarisinya.[8]
Imam Adz-Dzahabi dalam Thabaqat al-Qurra-nya (pada bagian muqaddimah) mengatakan: “ jumlah penghafal yang disebutkan adalah sejumlah mereka yang telah menguji ketetapan hafalannya dihadapan Rasulullah dan kami mengenal mereka dari riwayat yang sampai pada kami. Adapun para penghafal al-Qur’an selain mereka yang riwayatnya tidak sampai ke tangan kami banyak sekali”.[9]
Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula cara dan metoda dalam mempelajari Al-Qur’an. Dahulu dikenal juga dengan cara-cara klasik dalam mengajarkan Al-Qur’an:
1.      Seorang guru membacakan dan murid mendengarkan.
2.      Seorang guru membacakan dan murid menirukan bacaan guru.
3.      Murid membaca dan seorang syaikh menyimak bacaan murid.


PENUTUP
1.      Kesimpulan
a.       pengajaran atau pembelajaran Al-Qur’an adalah interaksi antara guru dan murid dalam mempelajari AL-Qur’an. Dalam mengajar Al-Qur’an, ada beberapa aspek yang mungkin bisa dipelajari diantaranya yaitu: Membaca, menulis, menghafal, menerjemah, tafsir, perbedaan cara baca dan mungkin masih banyak hal yang bisa digali darinya.
b.      Terdapat banyak sekali keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.
c.       Metode pembelajaran sahabat bisa kita tumbuh kembangkan sehingga bisa relevan untuk saat ini.
2.      Penutup
Demikian makalah ini kami susun. Penulis sadar betul bahwa keberadaan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam segi isi maupun penulisan. Dari sini penulis berharap adanya kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini dan penyusunan makalah-makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA


abu syahbah, Muhammad bin Muhammad. al-madkhol li dirosat al-quran al-karim, (kairo, maktabah as-sunnah, 1992)
Al-Qaththan, Manna Khalil. Mabahis fi ‘Ulum Al-Qur’an,
al-Shalih, Subhi. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an,
Maktabah Syamella, Shahih Bukhari, Bab Khoirukum man ta’allamal Qur’an, Juz 04
Maktabah Syamella, Sunan Tirmidzi, Juz 05.
Quraish Sihab, Muhammad. Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007)
Quraish Sihab, Muhammad. Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, )








[2] Muhammad bin Muhammad abu syahbah, al-madkhol li dirosat al-quran al-karim, (kairo, maktabah as-sunnah, 1992) hal. 20
[3] M. Quraish Sihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007) hal. 93
[4] M. Quraish Sihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, ) vol. 01 hal. 432
[5] Maktabah Syamella, Shahih Bukhari, Bab Khoirukum man ta’allamal Qur’an, Juz 04, hal. 1919
[6] Maktabah Syamella, Sunan Tirmidzi, Juz 05. Hal. 184
[7] Manna Khalil Al-Qaththan, Mabahis fi Ulum Al-Quran, hal. 06
[8] Manna Khalil Al-Qaththan, Mabahis fi Ulum Al-Quran, hal. 115.
[9] Subhi al-Shalih, Mabahits fi Ulum Al-Quran, hal. 84.