Syeikh mahmud Al Misry menyampaikan beberapa hal dalam khutbahnya, di antaranya beliau menyebutkan hadits dalam sahih Bukhari:
لاتقوم الساعة حتى يقبض العلم وتكثر الزلازل و يتقارب الزمان و تظهر الفتن..الى الاخر
Bahwa tidak akan terjadi kiamat sampai ilmu diangkat, terjadi banyak gempa dll.
Kejadian2 seperti di atas sering terjadi akhir2 ini, terutama gempa bumi baik di Lombok maupun di Palu.
Inilah kode atau tanda dari Allah. Merasakah kita?
Padahal ada isyarat Allah
وما نرسل بالايات إلا تخويفا.
Kami tidak memperlihatkan tanda2 itu kecuali untuk menakut-nakuti.
إن فى ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد.
Betapa semua itu adalah pelajaran bagi yang memiliki hati dan pendengaran yang hidup.
Beliau menambahkan 2 sikap manusia terhadap musibah dunia baik gempa maupun semisalnya:
طوبى لمن تاب واناب و الشقي لمن غفل واستمر على المعاصى.
Pertama, keberuntungan bagi orang yang bertaubat dan tunduk pada ketentuannya.
Kedua, sungguh merugi seseorang yg lupa dan masih berterus-terus dalam ma'siat.
Yaa Robbanaa..
Beliau juga memberikan 4 solusi terkait hal ini:
1. Bergegaslah menuju ampunan Allah/bertaubat.
2. Perbanyaklah bersedekah
3. Berusaha memperbanyak amal shalih.
4. Dan semampunya menolong saudara, karena Allah pasti bersama orang-orang yg menolong sesamanya.
والله فى عون العبد مادام العبد فى عون عبده اى ماكان.
بارك الله لى و لكم اجمعين..امين
Jum'at, 5-10-2018.
Bayt Al Qur'an.
By: Ahmad Imron Rosyadi
Minggu, 07 Oktober 2018
Senin, 27 Agustus 2018
Resume Tafsir
Resume Kajian Tafsir di Masjid Bayt
al-Qur’an
Suratul Fatihah – ayat 5
Hadist tentang pembagian shalat :
904 - وَحَدَّثَنَاهُ
إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِىُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ
عُيَيْنَةَ عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ
-صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ
الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ - ثَلاَثًا - غَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لأَبِى
هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ
فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى
مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ).
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ
يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ
عَبْدِى - فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ
». قَالَ سُفْيَانُ حَدَّثَنِى بِهِ الْعَلاَءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
يَعْقُوبَ دَخَلْتُ عَلَيْهِ وَهُوَ مَرِيضٌ فِى بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ أَنَا
عَنْهُ.
Ada pula riwayat lain yang menyebutkan basmalah dalam
riwata itu. Diriwayatkan dari Sayyidinâ ‘Ali Ibn Abî Thâlib berkata: Sesungguhnya
aku telah mendengar Rasululullah saw. bersabda bahwa Allah swt. berfirman: “Aku
membagi surah al-Fâtihah menjadi dua bagian, setengahnya untuk-Ku dan
setengahnya buat hamba-Ku, apa yang dimintanya akan Ku-perkenankan. Apabila ia
membaca (i i) Bismillâh ar-Rahmân
ar-Rahîm, Allah berfirman: “Hamba-Ku memulai pekerjaannya dengan menyebut
nama-Ku maka menjadi kewajiban-Ku untuk menyempurnakan seluruh pekerjaannya
serta memberkati seluruh keadaannya.” Apabila ia membaca (i i) al-hamdu lillâhi Rabb al-‘âlamîn, Allah
menyambutnya dengan berfirman: “Hamba-Ku mengetahui bahwa seluruh nikmat yang
dirasakannya bersumber dari-Ku, dan bahwa ia telah terhindar dari malapetaka
karena kekuasaan Ku, Aku mempersaksikan kamu (hai para malaikat) bahwa Aku akan
menganugerahkan kepadanya nikmat-nikmat di akhirat, di samping nikmat-nikmat
duniawi dan akan Ku-hindarkan pula ia dari malapetaka ukhrawi dan duniawi.”
Apabila ia membaca (i i) ar-rahmân ar-rahîm,
Allah menyambutnya dengan berfirman: “Aku diakui oleh hamba-Ku sebagai Pemberi
rahmat dan sumber segala rahmat. Ku-persaksikan kamu (hai para malaikat) bahwa
akan Kucurahkan rahmat-Ku kepadanya sampai sempurna dan akan Ku-perbanyak pula
anugerah-Ku untuknya.” Apabila ia membaca (i i) mâliki yaum ad-dîn, Allah menyambutnya dengan
berfirman: “Ku-persaksikan kamu (wahai para malaikat—sebagaimana diakui oleh
hamba-Ku) bahwa Akulah Raja, Pemilik hari Kemudian, maka pasti akan Ku-permudah
baginya perhitungan pada hari itu, akan Ku-terima kebajikan-kebajikannya dan
Kuampuni dosa-dosanya.” Apabila ia membaca (i i) iyyâka na‘budu, Allah menyambut dengan berfirman: “Benar
apa yang diucapkan hamba-Ku, hanya Aku yang disembahnya. Ku-persaksikan kamu
semua, akan Ku-beri ganjaran atas pengabdiannya, ganjaran yang menjadikan semua
yang berbeda ibadah dengannya akan merasa iri dengan ganjaran itu.” Apabila ia
membaca (i i) wa iyyâka nasta‘în,
Allah berfirman: “Kepada-Ku hamba-Ku meminta pertolongan dan perlindungan. Ku-persaksikan
kamu, pasti akan Ku-bantu ia dalam segala urusannya, akan Ku-tolong ia dalam
segala kesulitannya, saat akan Ku-bimbing ia dalam saat-saat krisisnya.”
Apabila ia membaca (i i) ihdinâ ash-shirâth
al-mustaqîm hingga akhir ayat, Allah menyambutnya dengan berfirman: “Inilah
permintaan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Telah Ku-perkenankan
bagi hamba-Ku permintaannya, Ku-beri harapannya, dan Ku-tenteramkan jiwanya dari
segala yang mengkhawatirkannya.”[1]
إياك
نعبد al-Ayah. Maksud ayat tersebut adalah
pengkhususan dalam beribadah baik ibadah yang
berhubungan dengan tauhid (seperti shalat) maupun ibadah yang
berhubungan dengan sesama manusia. Dan juga meminta pertolongan hanya kepada
Allah dalam beribadah dan dalam segala hal yang baik. “Iyyaaka Nasta’in”
menunjukkan arti bahwa dalam keadaan apapun kita harus meminta pertolongan
hanya kepada Allah, tak terkecuali dalam hal ibadahpun kita harus meminta
pertolongan kepada Allah. Maka ada riwayat do’a Nabi “اللهم
أعنّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك”
(3)- وعن معاذ - رضي الله عنه - : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم
- أخذ بيده ، وقال : (( يا معاذ ، والله ، إني لأحبك ، ثم أوصيك يا معاذ لا تدعُنِ
في دبر كل صلاة تقول : اللهم أعني
على ذكرك ، وشكرك ، وحسن
عبادتك )) حديث صحيح ، رواه أبو داود والنسائي بإسناد صحيح .
Biasanya dalam
susunan jumlah fi’liyyah terdiri dari fi’il, fa’il dan maf’ul (أفمن شرح الله صدره) namun dalam ayat ini di dahulukan maf’ulnya
dulu baru fi’il fa’il (إيّاك نعبد) ini mempunyai arti “Littakhsis”
(pengkhususan) hanyalah kepada-MU ya Allah kami beribadah bukan kepada yang
lain.
اهدنا الصراط المستقيم tunjukkanlah kami kejalan yang lurus. Dalam kata
“Na’budu” dan juga “ihdina” menggunakan dhomir (نحن) kita bukan (أنا)
saya, ada yang berpendapat itu menunjukkan arti kerendahan kita kepada Rabb
kita, maka kita menggunakan kata “kita/نحن”.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata kita dalam ayat tersebut menunjukkan
bahwa secara esensial kita adalah gabungan dari segala tubuh dan organ kita,
yaitu hati, akal, nafsu, dll. Dalam kandungan dhomir jama’ juga itu adalah kita
melibatkan Allah, bahwa dengan hidayat dan taufiq Allahlah kita mampu
beribadah.
Dalam istilah
hidayah paling tidak ada dua istilah besar yaitu : Hidayatut Taufiq dan
Hidayatul irsyad. Hidayat Taufiq posisinya diatas hidayah irsyad.
Irsyad : أَرشد الخلق إلى مصالحهم :
Taufiq :
Dan juga ada
hidayah : istito’ah dan masyi’ah.
Jumat, 17 Agustus 2018
Khutbah Bayt Al-Qur'an
Materi khutbah jumat 17 agustus 2018 di maajid bayt alquran pondok cabe
CINTA NEGARA
Oleh: Andi Rahman, MA.
Ketika intimidasi, ancaman dan gangguan dari kaum kafir Quraisy meningkat, Rasulullah menyarankan kaum Muslimin berhijrah ke Habsyah yang saat itu dipimpin oleh al-Najasyi, seorang raja yang baik dan tidak menzalimi rakyatnya. Dua kali kaum muslimin berhijrah ke Habsyah. Beliau sendiri masih berada di Mekkah dan melanjutkan dakwahnya. Belakangan, beliau juga melakukan hijrah ke kota Yatsrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah.
Mekkah merupakan kota metropolis yang kering (QS. Ibrahim 14: 37), sementara Madinah relatif lebih sejuk dan banyak penduduknya yang berprofesi sebagai petani. Selama berdakwah di Mekkah, Rasulullah menerima banyak gangguan bahkan upaya pembunuhan dari kaum kafir Quraisy. Namun saat menuju Madinah, beliau bersedih dan menyatakan bahwa Mekkah adalah kota yang sangat dicintainya. Secara kodrati, setiap orang akan mencintai tanah airnya, di mana ia dilahirkan dan hidup. Sungguh aneh, jika ada orang yang membenci tanah airnya sendiri.
“Hubbul wathan minal iman”, artinya cinta negara merupakan bagian dari keimanan. Ungkapan ini bukan berasal dari hadis, atau dalam bahasa lain kita sebut sebagai hadis palsu. Namun makna dari ungkapan ini benar, di mana kita memang harus mencintai negara dan tanah air kita sendiri.
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS. Al-Dzariyat 51: 56), dan semuanya ingin hidup berbahagia. Ibadah tidak bisa dilakukan dengan baik, dan kebahagiaan hidup tidak bisa diperoleh kecuali apabila negara kita aman, tenteram, dan sejahtera. Untuk itu, kita perlu menjaga negara yang kita tinggali dari segala gangguan dan ancaman baik dari luar maupun dari dalam negeri. Rasulullah menegaskan bahwa Allah memberikan pahala syahid bagi siapapun yang tewas akibat menjaga dirinya, hartanya, dan kehormatannya. Menjaga keselamatan dan kehormatan bangsa merupakan bagian dari menjaga keselamatan diri manusia.
Upaya merongrong kedaulatan negara, aktivitas yang memunculkan kegaduhan di tengah masyarakat, dan kriminalitas sama sekali bukan bentuk cinta negara dan pelakunya tidak layak diberi label “orang yang beriman”. Dalam banyak ayat Al-Quran dan hadis disebutkan ciri-ciri orang yang beriman, di antaranya adalah tidak mengganggu orang lain, tidak melakukan perusakan di muka bumi, baik kepada orang lain, dan menyebarkan keselamatan.
Dirgahayu Indonesia. Kami sungguh mencintaimu. Semoga Indonesia menjadi negeri yang baik dan mendapat ridha dari Allah (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur).
Jumat, 10 Agustus 2018
Resume Kajian Tafsir
Resume Kajian “Tafsir Sya’rawi” Oleh KH. Dr. Ahmad Husnul
Hakim, MA
Sabtu, 11-08-2018
Part @2
Pernah suatu ketika musuh islam di zaman nabi
memrintahkan ahli sastra mereka yaitu Walid Bin Mughirah untuk meneliti dan
mengatakan bahwa Al-Qur’an itu sihir, tetapi dia tidak bisa membohongi hatinya
bahwa itu bukan sihir. Sebagaimana terekam dalam surat Al-Mudasir. Tetapi untuk
konteks saat ini mungkin I’Jaz Ushlub itu sudah tidak begitu dirasa meskipun
masih ada, tetapi yang lebih terasa I’Jaznya saat ini adalah I’Jaz ‘Ilmi. Itu semua
sebagai bukti bahwa Al-Qur’an adalah لا ريب فيه .
Paling tidak info yang dibawa Al-Qur’an dibagi
dalam dua garis besar yaitu : Ayat kauniyah dan Ayat Manhaj. Ayat Kauniyah yang
berhubungan dengn informasi Ilmu Pengetahuan dan ayat manhaj yang berhubungan
dengan syariat, perintah dan larangan dan lain sebagainya.
Tidak bisa dipungkiri juga bahwa realita Al-Qur’an
ada dua yaitu teks dan konteks. Teksnya sampai kapanpun tak akan pernah berubah
sebagaimana janji Allah tersebut diatas, tetapi kita sebagai Rijalul Qur’an
dituntut untuk bijak dalam meng-Kontekstalisasikan Al-Qur’an sesuai dengan
zaman dan tempatnya, karena tanpa Kontekstualisasi nilai-nilai yang terkandung
didalamnya sulit di wujudkan. Al-Qur’an terhadap budaya lokal mungkin akan
melegitimasi ataupun mengoreksi bahkan menghapus yang tidak sesuai dengan
tuntunannya.
Resume Kajian Tafsir
Resume Kajian “Tafsir Sya’rawi” Oleh KH. Dr. Ahmad Husnul Hakim, MA
Sabtu, 11-08-2018
Part @1
Syaikh Sya’rawi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah menshifati
Al-Qur’an dengan Al-Kitab itu tercermin pada ayat ke-dua surah Al-Baqarah. Kata
Al-Qur’an berarti yang dibaca, sedangkan Al-Kitab tidak hanya dibaca dan dihafal
melainkan juga tertulis. Al-Kitab secara bahasa Al-Dhommu wal Al-Jam’u yang
berarti menghimpun dan mengumpulkan.
Mengapa menggunakan kata al pada al-Kitab, bukan hanya sebagai pembeda dari kitab-kitab yang lain tetapi juga pembeda dari
kitab samawi yang lain. Memang pernah ada kitab samawi sebelum Al-Qur’an tetapi
kitab itu sifatnya terbatas baik dari segi waktu maupun segi peruntukkan. Kitab
Nabi Nuh misalnya, itu diperntukkan hanya untuk Qaummu Nuh dan juga Ibrahim,
Luth, Syu’aib, Shalih. Semua kitab sebelum Al-Qur’an itu terbatas waktunya.
Didalam Kitab-kitab samawi terdahulu, terdapat Busyro (Kabar
Gembira), bahwa akan diutus seorang Rasul yang membawa Risalah dari langit dan
tentunya orang-orang pengikut kitab terdahulu akan mengikuti karena dia yang
menerima kabar tersebut. Sedang kenyataannya ada sebagian yang tidak mengikuti.
Dalam pengutusan ini sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf 157:
ﭧ ﭨﭴﭵﭶﭷﭸﭹﭺﭻﭼﭽﭾﭿ الأعراف: ١٥٧
Yaitu Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi
Yang Ummi. Mereka dapat dalam kitab Taurat dan Injil.
Al-Qur’an adalah Al-Kitab, Yang tidak pernah
mengalami perubahan maupun pergantian dan juga tidak akan mengalami pengurangan
maupun penambahan. Kitab-kitab samawi terdahulu penjagaannya dipercayakan
kepada manusia, maka bisa jadi dilupakan sebagian, dan yang tidak dilupakan ada
yang diganti, sedangkan mereka menisbahkan itu semua atas nama Allah, padahal
itu kebohongan mereka.
Akan tetapi Al-Qur’an dijaga sendiri Oleh Tuhan
Yang Maha Pencipta dan Maha Luhur yaitu Allah SWT. Sebagaimana dalam Firmannya
QS. Al-Hijr 09 :
ﭧ ﭨ ﭽ ﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞﭼ الحجر: ٩
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Az-Zikr (Al-Qur’an)
dan kami pulalah yang menjaganya.
Memang dalam hal Rububiyyah atau pemeliharaan,
Allah menggunakan kata (Innaa) yaitu untuk mengagungkan sifat-sifat
Allah dan memberikan perhargaan orang-orang yang terlibat didalamnya. Misalnya dalam
penjagaan Al-Qur’an Allah menggunakan kata Innaa yaitu untuk memberikan
penghargaan kepada siapapun yang terlibat dalam penjagaannya, bisa para malaikat,
Hafidz, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam hal Uluhiyyah (Tauhid), Allah hanya
menggunakan kata (Ana).
Kemukjiazatan Al-Qur’an bisa dilihat dari sisi
Ushlub atau gaya bahasanya, kandungan kisah-kisah tedahulu, pembenaran kitab
taurat dan injil dan rahasia ilmu pengetahuan yang belum diketahui manusia mungkin
hingga saat ini. Semua itu merupakan bukti tiada keraguan didalam Al-Qur’an (Laa
Raiba Fiih).
Mungkin ada sebagian kita yang mempertanyakan
mengapa gaya bahasa menjadi satu mukjizat? Itu karena dalam masa Al-Qur’an
diturunkan Latar belakang teritorialnya diturunkan kepada ummat yang
mengagungkan sastra arab, maka itu menjadi satu kemukjizatan tersendiri. Sebagaimana
Musa yang diberi kemukjizatan Tongkat Ajaibnya karena Kaumnya mendewa-dewakan
Sihir.
Kurang lebihnya Mohon maaf.....
Cak Mun
Senin, 16 Juli 2018
Mahasiswa IPTIQ
Jakarta Hadiri Pelantikan Pengurus Pusat FKMTHI
Mahasiswa IPTIQ
(Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) Jakarta ikuti Mukernas FKMTHI (Fokum
Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadist se-Indonesia) di UIN Antasari Banjarmasin
Kalsel. Acara ini merupakan Pengukuhan Pengurus Pusat FKMTHI masa khidmah
2018-2020 & Konsorsium Naional dengan tema “Islam dan Budaya Nusantara”.
Acara ini
dimulai dengan pertunjukan tarian khas Banjar, yaitu tarian penyambutan tamu
yang dikenal dengan nama tari “Radap Rahayu” dilanjutkan tilawah qur’an yang
dilantunkan oleh salah satu mahasiswa UIN Antasari.
Dalam sambutannya
Sekjend FKMTHI mengatakan bahwa ada sekitar 98 HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)
yang tergabung dalam Forum ini. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan sambutan
dari Rektor UIN Antasari Bp. Prof. Dr. Mujiburrohman, MA. Beliau mengatakan
bahwa FKMTHI ini adalah organisasi yang berbasis akademisi dan keilmuan. Beliau
juga berharap lebih intens adanya publikasi dan juga hasil karya ilmiyahnya
supaya dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Acara ini dibuka oleh bapak
Walikota Banjarmasin yaitu H. Ibnu Sina dan diakhiri dengan do’a oleh Dr. Ihsan
Arif, M.ag
Banjarmasin,
16/07/2018
Minggu, 01 Juli 2018
Kisah Nyata "Gadis Yang Menggetarkan"
Wanita Yang Menggetarkan Malaikat
Bergetar Gus
Hasan melihat gadis tesebut entah ada apa dengannya. Tetapi keyakinannya
mengatakan gadis tersebut adalah gadis yang shalihah, tidak biasa memang Gus
Hasan bergetar seperti itu, karena biasanya ketika melihat perempuan hanya
sekedarnya saja, tetapi kali ini beda “kata Hatinya”. Gus hasan adalah
putra seorang kiyai besar di jawa timur yang mempunyai pesantren dengan beribu
santri dan juga mempunyai (YASIN) Jam’iyYAh SIma’an Nusantara.
Namanya Ahmad
Hasan Muntaha yang akrab dengan panggilan “Gus Hasan”, putra dari KH.
Ahmad Muntaha pemilik pesantren Al-Fauz di Kediri. Dalam pertemuannya yang
ke-tiga dengan gadis yang belum diketahui namanya itu membuat Gus Hasan semakin
yakin untuk mempersuntingnya, karena kekuatan firasat hatinya tersebut Beliau
meminta tolong kepada salah seorang santrinya untuk mencaritahu dan mengorek
informasi tentang gadis tersebut. Setelah berlalu dua bulan diketahui bahwa dia
bukan keturunan seorang Kiyai atau mempunyai nasab istimewa apapun, hanya saja
dia masih nyantri disalah satu pesantren dikediri juga, dia bernama “Nurul
Arifah Hilda”.
Bagaimanapun keadaannya,
tetapi Gus hasan telah mantap dan yakin bahwa dia adalah wanita yang shalihah. Gus
Hasan penasaran apa yang membuat gadis tersebut istimewa, apa amalannya dan
lain sebagainya. Singkat cerita Gus Hasan Sowan ke Ndalem Kiyai dimana Ning
Hilda nyantri disana untuk meminta Ning Hilda dari Kiyai tersebut.
Atas restu dari
Kiyai, Gus Hasan Sowan ke orang tua kandungnya meminta izin untuk mempersunting
gadis pujaan hatinya tersebut. Setelah berumah tangga beberapa lama, Gus Hasan
mulai menelisik apa yang membuat istrinya istimewa sejak awal pertama berjumpa.
Dari berbagai
percakapan harian keluarga Gus Hasan dengan Istri tercintanya, Gus Hasan Tahu
betapa pedih perjuangan istrinya dulu. Istrinya tidak dibiyayai untuk mesantren
tetapi dia nekat dengan modal restu saja dari orang tuanya. Istrinya nekat
pergi mengabdi kepada Kiyai untuk menuntut ilmu dan Ngalab Berkah dari Kiyai. Selama
menjadi santri dan abdi Ndalem dia selalu berpuasa, setiap pagi pergi kesawah Kiyai
dan pulang disiang hari untuk mengaji. Enam Tahun penuh dia berpuasa dan tidak
pernah absen bangun malam.
Dia menghafal
berbagai pelajaran ditengah derai tangisnya saat santriwati lain terlelap, dia
sudah terlebih dahulu mengadu kepada Rabb-nya saat yang lain belum bangun, dia
berhasil menjemput Fadhal rabb-nya menghatamkan Al-Qur’an di tahun ke-tiga
Nyantri. Dengan hujan air mata dia mensyukuri itu semua. cukup makan satu kali
diwaktu berbuka dan sebagai makanan sahurya. selama enam tahun lamanya dia
cukup sahur dengan air putih, sesekali memakan sisa makanan santri yang malam
hari dapat undangan hajatan. Dia melakukan itu semua atas nama Riyadhoh dan
Syukur atas karunia dari Tuhan-nya.
Pantas saja
engkau begitu mulia istriku “Ucap Gus Hasan”. Betapa besar pengorbanan
hidupmu, betapa berat Riyadhohmu dan itu sama sekali tidak mengganggu
belajarmu, mungkin engkau hanya tidur tiga sampai empat jam saja sehari untuk
menjalani hari-harimu yang berat.
Lalu bagaimanakah
kita para santri saat ini? Masihkah kita mementingkan riyadhoh dan melatih diri
kita? Atau mungkin justru terlena dengan kemajuan tekhmologi canggih yang kita
hadapi, kita justru banyak menghadap Gadget daripada menggenggam Mushaf
kita....
Cerita ini
diilhami dari kisah nyata, semoga kita dapat memetik hikmah dari peristiwa
diatas.. amin.....
Langganan:
Postingan (Atom)





