Rabu, 08 Januari 2020

Tahfidz dan Sucinya Hati

in Frame : Ust. Rohim kakak-kakak PKM (Program Kader Mufassir)
Pusat Studi Al-Qur'an



Menghafal merupakan budaya yang sedang menjamur akhir-akhir ini, terlebih di indonesia. Ini ditunjukkan dengan banyaknya pertumbuhan pesanten tahfidz dan juga rumah-rumah tahfidz di indonesia saat ini. 

Aktifitas menghafal ini atau lebih dikenal dengan istilah –tahfidz- adalah aktifitas menghafal ayat-ayat al-Qur’an baik secara individu maupun kolektif. Biasanya dalam proses menghafal dibutuhkan Murobbi atau seorang guru untuk menyimak hafalan tersebut, ayat per ayat, halaman per halaman, juz per juz, hingga akhir capaian dari hafalan yaitu selesai 30 Juz dengan Mutqin. Guru atau Syaikh yang diperlukan dalam dunia menghafal adalah seorang syaikh yang benar-benar mempunyai sanad bacaan muttashil hingga Rasulillah Saw, untuk memastikan bahwa bacaan penghafal adalah benar sesuai riwayat bacaan dari gurunya hingga ke Rasul.

Tetapi apakah menghafal Al-Qur’an sama dengan menghafal yang lain? Hanya sekedar hafal saat setor (membaca hafalan didepan guru) setelah itu di lupakan? Ternyata tidak, menghafalkan Al-Qur’an justru sesuatu yang sangat tidak mudah, karena mempunyai kewajiban menjaganya hingga kelak ke surga. Senada dengan hal itu terdapat sabda Nabi Muhammad Saw.

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإِبِلِ فِى عُقُلِهَا

Artinya : jagalah (hafalan) Al-Qur’an, demi zat yang jiwa saya berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya Al-Qur’an itu sangat cepat terlepas (lupa) melebihi lepasnya unta dari ikatannya.

Menghafal Al-Qur;an itu hukumnya Fardhu Kifayah, tetapi menjaga hafalan Al-Qur’an hukumnya Fardhu ‘Ain, jika kita telah merelakan diri kita untuk menghafalkan Al-Qur’an maka siap tidak siap harus mau menjaga hafalan tersebut. Yang disebut Hafidzul Qur’an bukanlah orang yang pernah menghafalkan Al-Qur’an tetapi orang yang istiqamah menjaga hafalan Al-Qur’an-nya.

Al-Qur’an adalah induk segala ilmu, dan kita tahu bahwa terdapat kisah Imam Syafi’i yang mengadu buruknya hafalan kepada Gurunya, Imam Waqi’. Dan gurunya memberikan nasehat bahwa “العلم نور, ونور الله لا يهدى للعاصي” ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang bermaksiat.

Oleh karena itu, jika ingin di mudahkan dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an seyogyanya seorang santri / Thullab senantiasa menjaga dirinya dari aneka maksiat. Semoga Allah selalu membimbing dan memberikan kemudahan kepada kita untuk mempelajari Al-Qur’an.


AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar