Kamis, 09 Januari 2020

Resume Kajian Tafsir Asy-Sya’rawi


Resume Kajian Tafsir Asy-Sya’rawi oleh:
KH. Dr. Ahmad Husnul Hakim, IMZI, MA.

Maaf Foto Hanya sebagai Pemanis, itu Teman-teman JHQ
PTIQ - IIQ angkatan 2016

Ada yang istimewa di hari sabtu bagi mahasiswa di area pondok cabe, ciputat dan sekitarnya. Pasalnya ada banyak jadwal kajian yang bisa diikuti, lebih istimewanya lagi, berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) bukan dari teman-teman yang hanya mengaku ahlus sunnah. Bukan wilayahku untuk kritik mengkritik...hehe
Diantara jadwal Kajian itu adalah Jum’at Malam sabtu ada kajian Kitab Tafsir Sya’rawi yang diampu oleh Kiyai pesantren eLSiQ (Lingkar Study Ilmu Qur’an) bertempat di Perum Wisma Mas Pondok Cabe. Dilanjutkan dengan pagi harinya dengan kajian Dhuha kitab yang sama dan juga pengampu yang sama yaitu Abah Husnul Bertempat di Masjid Bayt al-Qur’an Perum. Southcity, Jl. Southcity Selatan. Dilanjutkan dengan kajian bernuansa Islam Nusantara di INC (Islamic Nusantara Center) dengan dua sesi, yaitu sesi sebelum dzuhur dan seusai Dzuhur beralamatkan di Wisma UIN Syarif Hidayatullah. Dilanjut dengan kajian Fikih di masjid Bayt Qur’an setelah magrib lalu kajian Risalah Ahlus Sunnah setelah Isya’, pokoknya kalau kita ikutin semua akan menjadi manusia sok sibuk di hari libur deh...hehehe
Yang ingin kami resumkan hanya kajian Dhuhanya saja, hehe
Di sabtu ini kami masih berkutat dengan Tafsiran Syaikh Sya’rawi di ayat yang ke-empat surat al-fatihah. “Maaliki Yaumiddiin”. Diminggu yang lalu kita di suguhkan dengan pertanyaan seseorang kepada Syaikh dengan pertanyaan: “aku ingin tahu, apakah aku ini termasuk orang ahli dunia atau ahli akhirat?” lalu Syaikh tersebut menjawab, “Timbangannya adalah ada pada dirimu sendiri” lalu pemuda itu bertanya kembali. “bagaimana caranya?” lalu di jawab oleh Syaikh “Jika datang kepadamu orang yang meminta Shadaqoh kamu lebih suka dibandingkan dengan orang yang datang kepadamu membawa harta.” Maka kau termasuk orang ahli akhirat. Ini bisa kita logika karena harta yang sesunguhnya milik kita adalah harta yang kita infakkan. Yang akan tetap kita nikmati hingga di akhirat kelak.
Di pagi ini, abah menjelaskan bahwa cara melihat ada dua: yaitu melihat dengan mata dan melihat dengan hati. Pandangan mata untuk melihat materi, sedang pandangan hati adalah untuk melihat dalam pandangan koridor iman. Pandangan mata tidak perlu di percayai karena memang sudah jelas. Tetapi pandangan hati harus di imani karena ada hal-hal ghaib yang bisa kita saksikan.
Seseorang yang mempunyai pandangan hati, jika mebaca ayat-ayat tentang kebahagiaan dan surga maka dia akan bergembira karena melihat kebahagiaan orang yang menghuninya. Begitu pula ketika membaca ayat adzab, maka akan bergetar hatinya karena ketakutannya. Sebagaimana QS. Az-Zumar 23.

تقشعرّ منه جلود الذين يخشون ربّهم
gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
Disini juga dicantumkan Riwayat yag menceritakan tentang Jibril yang mengajarkan kepada para sahabat: Rasul bersabda “Hendaklah kalian menyembah Allah seolah-olah kamu melihatnya, jika kalihat tidak melihatnya maka Allah pasti melihatmu”. Ini adalah sebagai acuan pandangan seorang mukmin dalam melihat segala hal.
Pada suatu hari Nabi Muhammad Saw. Bertemu salah seorang sahabat yang bernama Harist. Beliau bertanya: “bagaimana kabarmu hari ini?”. Harist menjawab; “Baik dan saya tetap beriman”. Rasul berkata: “apa indikasi imanmu?” Harist menjawab; “saya menghindardari dunia, bermunajat di malam hari, berpuasa di siangnya. Seolah-olah sedang melihat Arsy Allah, dan seolah melihat ahli surga dengan keindahan bercengkrama para penghuninnya. Dan melihat ahli neraka sedang menjerit”. Rasul berkata: “wahai Harist, kamu telah mengetahui maka Konsistenlah”.
Di tengah-tengah penjelasan beliau menjelaskan bahwa seorang Ahli Qur’an (Orang yang hafal Al-Qur’an) harus selalu setia dengan istri pertamanya itu, karena dia adalah pencemburu. Al-Qur’an itu sendiri maksudnya. Kita harus selalu “Muroqobah, Mujahadah dan Mu’aqobah” kita harus selalu bertekad kuat, menjalankan tekad itu dan menghukum diri sendiri jika terlewat.
Kita juga dapat melihat firman Allah QS. Al-Fil ayat pertama “ألم تر  apakah kamu tidak melihat? Ayat ini biasa dibuat menyerang al-Qur’an oleh para orientalis. Bagaimana mungkin Nabi melihat? Sedang nabi dilahirkan ditahun itu juga. Jika ayat tersebut “ألم تعلم” apakah kamu tahu? maka ini mungkin saja. karena tahu, bisa jadi diberi tahu oleh orang lain atau belajar dari orang yang lain. Begitu penuturan Orientalis. Ini tidak dapat diterima karena melihat disini adalah melihat dengan pandangan iman. Bukan wilayah melihat materi. Begitu juga orang mukmin yang membaca ayat ini hendaknya melihat dengan pandangan iman, karena pandangan mata mungkin saja menipu tetapi pandangan hati sangatlah otentik dan jujur.
Wallahu A’lam.....
Sekian dulu teman-teman, sudah malam.hehe -) kalau ada kritik atau saran boleh langsung komen dibawah atau privat chat juga gak apa. Terima kasih deh....
Semoga bermanfaat.........................
Maaf,  Lat Post... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar