Selasa, 15 Mei 2018

Do'a Tarawih dan Witir



Do’a Tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ سيّدنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Do’a Witir
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ : (ثلاث مرّات)
سبّوح قدّوس ربّـــــــنا وربّ الملئكة والرّوح : (ثلاث مرّات)
سبحان الله والحمد لله ولااله الاّ الله والله أكبر ولا حول ولا قوّة إلّا بالله العليّ العظيم

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَا فِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَا مَنَا وَقِيَا مَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا
يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
أشهد أن لا إله إلّا الله. أستغفر الله. نسئلك رضاك والجنّة ونعوذ بك من سخطك والنّار. (ثلاث مرّات)
اللهم إنّك عفوّ كريم تحبّ العفو فاعف عنّا : (ثلاث مرّات) . يا كريم

Niat Puasa


نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

Senin, 14 Mei 2018

Hirzul Jausyan dan IIQ Jakarta


Postingan ini merupakan hasil tugas wawancara untuk mata kuliah "Tasawwuf". kami di tugaskan untuk wawancara tokoh mengenai perkembangan Majlis Dzikir dan tetek bengeknya tentang dunia ketasawwufan. 
sebenarnya saya juga tidak tahu harus mewawancara siapa dan juga tidak kenal dengan Ustadz Rosyid ini, tetapi saya haturkan terima kasih yang tiada terkira untuk sahabat kami "Itsam Samrotul Fuadah" yang bersedia mewakili lisan kami untuk berdialog dengan beliau.
meski kami sadar daya kritis dalam wawancara kita beda, tidak mengapa karena engkau telah mewakilkan Lisan kami. kami juga meminta maaf jika dalam penuangan kontens wawancara masih banyak kekangan disana sini. kami bersedia menerima kritik dan sarannya. sampaikan salam kami teruntuk Ustadz Rosyid, maaf jika dalam penulisan ini masih banyak kekurangan. dan juga terima kasih untuk Ustadz Abdul Rosyid atas waktu dan kesediaannya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. teruntuk kang mas zuhri juga kami haturkan banyak Matur nuwun telah berbagi ide dan lain sebgainya....


Ahmad Munthaha_IPTIQ_Ushuluddin_IV-A

Diskripsi Narasumber
Nama : Abdul Rosyid
Nama Pena : Abdur Rosyid Masykur/Abdul Rosyid Masykur
Tpat Tgl. Lhr. : Lumajang, 20 September 1979
E-mail : arosyidm@gmail.com;
Telp. : 0815-14360-121
Istri : Ruaedah
Anak : 1. Nayahita Rosyidah (Naya)
  2. Abhinawa Rosyidah (Nawa)
3. Alifa Rasyida Nurania (Rara)

Riwayat Pendidikan
Formal: 
SD Taquma (Surabaya) (1987-1992)
MTs. Salafiyah Syafi‘iyah (Sampang Madura) (1994-1997)
MA. HM. Tribakti Lirboyo (Kediri) (1999-2002)
Universitas Islam Negeri Jakarta (Jurusan Tarjamah, Fak. Adab dan Humaniora)
Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (Konsentrasi Ulumul Qur’an)
Informal: 
Pondok Pesantren Darut Tauhid, Injelan Sampang Madura (1992-1998)
Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri (1999-2002)
Pesantren Fathul Ulum, Kewagean, Pare Kediri; PP Al-Khozini, Buduranm Sidoarjo; PP. Al-Hamdaniyah, Panji, Sidoarjo; PP. Darus-Salam, Tegalrejo, Tanggulangin, Pasuruan.
Pengalaman Organisasi
Ketua OSIS MA. HM. Tribakti
Waka BEMJ Tarjamah UIN Jakarta
Ketua Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (PP. FORMAL)
Sekretaris 3 Pimpinan Pusat Jam‘iyyatul Qurra wal-Huffazh Nahdlatul Ulama 
Pengalaman Pekerjaan/Profesi
Editor di Penerbit Almahira (2007-2010)
Dosen UIN Jakarta
Dosen IIQ Jakarta
Dosen UNPAM
Pengajar di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta 
Ketua Pusat Penerjemahan dan Penerbitan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta (2014-2015)
Ketua Lembaga Bahasa IIQ Jakarta
Direktur IIQ Press



Sejarah Perkembangan Hirzul Jausyan di Institut Ilmu al-Qur’an Jakarta

Adanya Hirzul Jausyan di IIQ Jakarta ini di inisiasi oleh bapak Hasan yang mendapatkan ijazah ini dari Lirboyo. Ijazah Hirzul Jausyan ini memang sering di ijazahkan pada santri-santri yang tamatan di Lirboyo, baik tamat tsanawiyyah maupun aliyyah. Kiyai Mahrus Ali memperoleh Ijazah tersebut dari Kiyai Musthofa Lasem dari gurunya dari gurunya hingga rasulullah.

Hizib ini pada mulanya di baca pribadi-pribadi oleh para pengamalnya. Seiring perkembangan zaman maka Hizib tersebut dibaca secara Komunal. Yang dalam Konteks Jakarta yang memulai adalah Abuya KH Muhammad Juned HMS -yang pada akhirnya dikenal Syaikh Juned- dengan para jama’ahnya yang menamakan diri “Laskar Jausyan”.

Beliau (Bapak Hasan) melihat bahwa IIQ Jakarta ini telah di penuhi dengan aroma ke-Qur’anan. sehingga beliau tergerak untuk meminta Jama’ah Syaikh Juned untuk bersama mengamalkan Hirzul Jausyan tersebut di IIQ Jakarta. Hal ini juga sebagai selingan kegiatan pesantren, yang di isi dengan Selingan yang bagus, yaitu Do’a dan Shalawat.

Syaikh Juned tidak serta merta langsung menerima permintaan tersebut, tetapi beliau Istikharah terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengadakan majlis di IIQ tersebut.

Hizib ini di amalkan oleh komunitas Sunny dan Syi’ah, lebih-lebih kalangan Shufinya. Bahkan di amalkan juga oleh Sa’id Nursi turki. Memang ada perbedaan sedikit antara redaksi Hizib ini, namun pada intinya itu adalah isi dari Hirzul Jausyan itu sendiri. Bedanya Sa’id Nursi mengganti “al-Ghouts – al-Ghouts dengan al-Aman – al-Aman” sedang dalam tradisi syiah “al-Ghouts – al-Ghouts” dua kali, sedang dalam tradisi Sunny dibaca tiga kali.

Memang sanad Hizib ini jika dilihat dari sudut pandang Ilmu Hadist, sanad tersebut tidak bisa di pertanggung jawabkan. Tetapi tradisi sanad dalam tasawwuf tidak seketat dalam disiplin ilmu hadist. Bahkan ada cerita Imam Ghazali mengkonfirmasi langsung hadist-hadistnya dalam ihya kepada Nabi.

Pernah suatu ketika Prof. Dr. Ali Musthofa Ya’qub, MA di berikan Hizib ini oleh santrinya dari kediri. Beliau berkomentar bahwa ini dari segi sanad memang bermasalah, tetapi secara isi bagus.

“Saya merasakan berbeda dengan adanya Hirzul Jausyan dan tidaknya di IIQ ini” komentar pak hasan ketika di tanya apa yang di dapatkan dari mengamalkan Hizib ini. Beliau juga menjelaskan bahwa isi dari hirzul jausyan adalah Do’a. Sebagai suatu contoh “Ya Kaasyifal Muskilat” bahwa masalah-masalah kita akan di urai oleh Allah Swt. Seolah-olah masalah kita akan terurai dengan sendirinya.

Dan beliau mengatakan “akan merasa tenang” karena ketenangan setiap orang akan beda-beda. Beliau mengatakan Do’a Hirzul Jausyan ini bukan Hanya untuk IIQ tetapi juga untuk Indonesia. “Kata Beliau”. Beliau juga mengutarakan bahwa saat ini keadaan indonesia sedang berada dalam posisi yang tidak menentu, semuanya serba subhat dan tidak jelas. Oleh karena itu kita harus banyak berdo’a meminta pertolongan Allah Swt.

Beliau mencontohkan bahwa sekarang banyak orang baik yang terlihat buruk karena di Freming oleh Media dan begitu juga sebaliknya. Maka kita harus banyak berdo’a. Beliau juga mengatakan bahwa ini adalah “Do’a IIQ Untuk Bangsa”.

Sedangkan orang yang mengikuti kegiatan ini untuk Dunia dan lain sebagainya itu gambaran orang yang tertutup mata hatinya. Dan efeknya akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana di katakan oleh Ibn Atho’illah as-Sakandari “Orang yang mengejar sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah (Harta), sedangkan ia abai terhadap sesuatu yang di tuntut oleh Allah (Ibadah), maka dia sedang tertutup hatinya”.

Masalah-masalah dalam tasawwuf masih sangat relefan dalam konteks saat ini, karena Zuhud, Tawakkal, Sabar, Ikhlas adalah Konsep Hati. Bukan hal yang kasab mata. Bahkan Syaikh Hasan as-Syadzalli adalah Gambaran Tokoh Shufi yang kaya raya. Bahkan para shufi yang kaya tidak memperdulikan hartanya.

Justru dengan tasawwuf maka manusia akan semakin beradab, tasawwuf adalah intisari dari Akhlak. Maka dengan bertasawwuf orang akan semakin berahklah. Maka Tasawwuf dapat menjawab tantangan zaman. Bahkan beliau berpendapat bahwa “justru saat ini manusia wajib bertasawuf”.


Senin, 07 Mei 2018

Pemikiran Kontempore Dalam Islam


Tugas Pemikiran Kontemporer Dalam Islam

Wawancara ini kami lakukan di hari jum’at 04-mei-2018 seusai shalat jum’at di pesantren Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe, Kebetulan Prof. Hamdani ada jadwal mengisi teman-teman PPL dari IAIN Surakarta dan alhamdulillah kami bisa di pertemukan dengan beliau sebelum beliau mengajar. Wawancara ini dilakukan untuk memenuhi tugas UAS di PTIQ prof, kata kami dan beliau menjawab pelajaran apa? Pemikiran Kontemporer Dalam Islam. Oke silahkan.
 Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA merupakan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beliau menekuni kajian tafsir Al-Quran dan hadis sejak muda di Institut Agama Islam Negeri Jakarta (sekarang UIN), dari tingkat sarjana hingga doktoral. Penguasaannya dalam pengetahuan agama sudah tak diragukan lagi, dan bidang kepakarannya adalah ilmu-ilmu Al-Quran (Ulum al-Qr’an). Hal ini membuatnya diamanahi untuk mengajar di UIN Jakarta dan Perguruan Tinggi Al-Quran (PTIQ), juga sejumlah perguruan tinggi lainnya di Jakarta. Selain itu, beliau juga berdakwah di berbagai tempat dan lokasi, mulai dari lembaga pemerintahan, swasta, maupun masyarakat umum.
Sesungguhnya pemikiran kontemporer sudah lahir sejak masa yang sangat lama, dilatar belakangi masalah theologi ketika sebagian menyepakati untuk musyawarah dan yang lainnya tidak mau jika tidak menggunakan hukum Allah. Dari ini maka akan muncul Aliran-Aliran dalam islam, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah dan lain sebagainya.
Sedangkan latar belakang dari lahirnya tokoh pemikir kontemporer islam itu di karenakan karena para tokoh tersebut belajar dari masa lalu yang di sesuaikan untuk konteks saat ini. Dan juga memang sudah fitrah manusia dari perolehan ilmunya pasti akan muncul ide-ide baru. Jika keilmuan tersebut berkaitan dengan agama islam maka akan muncul Pemikiran Kontemporer Dalam Islam. Pemikiran ini bisa berkaitan dengan Akidah, Ibadah, Ahklak, Filsafat, Tasawwuf, Ilmu Kalam dan lain sebagainya.
Adapun tipologi masa lalu pemikiran islam ini terbagai menjadi dua garis besar yaitu Jabariyyah dan Qodariyyah. Yang pada perkembangannya Jabariyyah muncul pada Aliran Asy’ariyyah sedangkan Qodariyyah tercover pada aliran Mu’tazilah. Dalam konteks masa kini, justru para tokoh lebih condong pada keyakinan bahwa manusia mempunyai peran dalam memilih jalan hidupnya yang disebut dalam istilah “Mu’tazilah Modern”.
Sumber Inspirasi pemikir-pemikir Islam di indonesia disebutkan oleh Ustadz Hamdani itu berawal dari pemikiran Harun Nasution. Yang dilatar belakangi perolehan pendidikannya dari Fakultas Ushuluddin (Pemikiran Islam) Universitas Al Azhar Kairo (1940-1952) dan juga dari Jurusan Studi Sosial, Universitas McGill, Montreal, Kanada (1962-1968).
Perkembangan dan persebaraan pemikir islam di indonesia ini pada awalnya mayoritas Dosen IAIN yang melanjutkan studi pascanya yang waktu itu -tahun 70-80.an- hanya ada di IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta. Yang disitu mereka di ajar oleh Harun Nasution. Dari sinilah pemikiran harun berkembang di indonesia sehinga mayoritas umat islam yang terdidik menganut faham yang di usung oleh Prof. Harun tadi “Mu’tazilah Modern”. Dilain fihak, umat islam yang golongan pesantren tetap menganut ajaran Kalam Asy’ariyyah.
Dengan ajaran yang dianut dari Harun tersebut, sangat menganjurkan menuntut ilmu, baik ilmu pengetahun umum maupun agama. Yang pada perkembangannya banyak yang belajar dari Timur Tengah dan Juga dari Barat. Beliau “Ustadz Hamdani” menyarankan bahwa baiknya dosen dalam sebuah Universitas ada lulusan keduanya yaitu Timur Tengah dan Barat.
Semakin banyak mahasiswa yang mengusung pemikiran-pemikiran ini maka akan muncul ide-ide baru dan akan memperluas khazanah keilmuan islam. Sehingga akan semakin memperluas wawasan umat islam dengan temuan mereka, seperti Tafsir Maqosidi dan lain sebagainya.



Senin, 16 April 2018

Hasil Penelitian Living Qur’an dengan Judul “Digitalisasi Al-Qur’an di kalangan Kawula Muda”



Hasil Penelitian Living Qur’an dengan Judul “Digitalisasi Al-Qur’an di kalangan Kawula Muda”

A.    Latar Belakang
Berdasarkan kemajuan tekhnologi, maka sudah pasti apapun yang bisa di mudahkan oleh tekhnlogi akan tercover disana, lebih-lebih tekhnologi digital. Misalnya, hadist-hadist yang saat ini dihadirkan dalam dunia digital, al-Qur’an dalam bentuk aplikasi digital, bahkan aplikaisi Qira’at-pun ada aplikasi digitalnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut kami mengadakan sebuah penelitian dengan menggunakan Quisioner yang kami sebar melalui Broadcast WA dengan berbatas waktu. Yaitu dari hari Jum’at hingga hari ahad 30 maret hingga 01 april 2018.
Adapun Petanyaan yang kami ajukan adalah:
1.      Apakah anda meng-Instal Al-Qur’an di Android?
2.      Apakah alasan anda jika meng-Instal dan apa jika tidak?
3.      Lebih sering membaca dimanakah antara mushaf dengan aplikasi? Mengapa?
4.      Ayat apakah yang sering anda jumpai di medsos?
5.      Dan ayat apakah yang anda pernah atau bahkan sering anda upload di medsos?

B.     Rumusan dan Batasan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah untuk kita mengetahui sebatas mana Digitalisasi al-Qua’an di kalangan anak muda, apa kelebihan dan kekurangan dari digitalisasi tersebut serta mengungkap apa faktor yang menyebabkan perlunya digitalisasi. Rumusan maslah ini kami batasi dengan hanya menarik kesimpulan pada poin pertama, kedua dan ketiga agar permasalahan tidak terlalu melebar dan juga karena keterbatasan waktu peneliti.
C.     Metode dan Pendekatan Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif.
Metode kualitatif adalah metode penelitian yang ditujukan untuk memahami fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran dan persepsinya. Sedangkan pendekatan deskriptif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mempelajarai secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial: individu, lembaga, kelompok atau masyarakat.
D.    Sumber dan Analisis Data
Adapun data Quisioner yang kami ajukan di dapatkan jawaban dari sebagian besar Perguruan tinggi dan hampir bisa dipastikan yang menjawab atau mengisi quisioner tersebut adalah pemuda atau pemudi. Maka penelitian ini kami beri judul “Digitalisasi Al-Qur’an di kalangan Kawula Muda”.
E.     Analisis dan Pengolahan Data
Peneliti menjelaskan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian tertsebut. Dalam contoh kasus di atas, model analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif (interactive model of analysis) yang meliputi tiga tahapan yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing (penarikan kesimpulan).
Reduksi data, yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Penyajian data, yaitu penyusunan informasi yang kompleks ke dalam suatu bentuk yang sistematis, sehingga menjadi lebih selektif dan sederhana serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan data dan pengambilan tindakan. Kesimpulan, yaitu merupakan tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh dari observasi, interview, dan dokumentasi. Pada tahap ini peneliti melalukan konseptualisasi atau generalisasi.[1]
Berdasarkan beberapa pertanyaan dalam Quisioner yang kami ajukan di atas, kami akan mencoba menyajikan hasilnya dalam bentuk tabel agar memudahkan dalam analisisnya.


No
Nama
Instal
Alasan
Lebih sering baca dimana
01
Iftitah/UIN Surabaya
Iya
Mudah akses tanpa Mushaf tanpa Wudhu
Mushaf
02
Faruq Azri/PTIQ
Pernah
Ada tafsirnya, bisa dibawa kemana-mana karena kemana-mana selalu membawa HP
Mushaf
03
Iis Sumiyanti/UIN Syarif
Iya
Untuk memudahkan Murojaah saat tidak membawa Mushaf
Mushaf, Androidnya saat darurat saja
04
Desi Rahawati/UIN Syarif
Iya
Memudahkan Murojaah ketika diluar rumah
Lebih Nyaman membaca Mushaf
05
M. Fadhli Khumaeni/BQ
Iya
Mudah dan Praktis
Mushaf, Mudah Mencari ayat Mutasyabihat
06
Ustman/PTIQ
Iya
Mudah jka diperjalanan
Mushaf
07
Atiqoh/IIQ
Iya
Lebih mudah untuk dibawa dan mendengarkan murottal
Mushaf, lebih Nyaman
08
Nisa/IIQ
Iya
Membantu
Mushaf
09
Ina/IIQ
iya
Dibaca ketika Dharurat
Mushaf, lebih Nyama dimata dan buat obat mata “membuka kacamata”
10
Mahdi/PTIQ
Tidak
Ram Kecil
Tidak boleh pindah2 Mushaf supaya Barokah
11
Ali S/PTIQ
Iya
Memudahkan saat mncari ayat. Langsung GO
Mushaf, Lebih Afdhol
12
Azami/PTIQ
Iya
Memudahkan membaca dimanapun
Mushaf, karena terbatas dalam membuka Android
13
Nazir/Sadra
Tidak

Mushaf
14
Shobiyatul Asna/IAIN PKL
Iya
Memudahkan melihat ayat-ayat saat ada mata kuliah mengenai ayat-ayat Al-Qur’an
Mushaf, Kebiasaan
15
Liyana Mas’udah/Alumni PPQRH PKL
Iya
Memudahkan Ketika Bepergian
Mushaf
16
Khodijah Nahla/Alumni PPQRH PKL
Iya
Simpel untuk dibaca dimanapun, lebih sering bawa HP
Mushaf, Lebih Nyaman
17
Masruroh/UIN Walisongo
Iya
Nderes Sambil Nunggu Dosen
Mushaf, Lebih Fokus
18
Luluk Labibah/IAIN PKL
Iya
Lebih Mudah dibawa, Bawa Qur’an takut terbawa saat maksiat
Aplikasi, sering tidak dirumah dan tetap harus bacaa saat habis shalat
19
M. Murtaqi Makarima/IAIN PKL
Iya
Sangat membantu, terutama saat tidak ada mushaf
Mushaf, aplikasi hanya untuk keadaan tertentu
20
Nurul Izzati/IAIN PKL
Tidak
Memory Penuh
Mushaf
21
Amilatun Hasanah/IIQ Jakarta
Iya
Agar bisa Murojaah dimana saja
Mushaf
22
Nok Fatimatuzzahro/IAIN PKL
Iya
Untuk menemukan ayat-ayat ekonomi karena itu Jurusanku
Mushaf, Lebih Jelas, tidak merusak mata
23
Khasinatul Muniroh/IAIN PKL
Tidak
Selagi bisa secara langsung mengapa tidak?
Mushaf
24
Wirda R/ SMA 4 PKL
Iya
Untuk Tugas Sekolah, lebih mudah Melihat ketika dalam keadaan tidak suci
Mushaf, karean di android cepat capek
25
Karima/IAIN PKL
Iya
Sewaktu2 bisa buka mushaf saat di kelas
Mushaf, Lebih Nyaman di mata
26
Dini Styaningrum/IAIN PKL
pernah
Mempermudah dalam membaca al-Qur’an dan mencari
Mushaf, lebih jelas tajwid dan tulisan ayatnya dan tanda waqaf
27
Maestya Putri/IAIN PKL
Iya
Praktis, bisa dibawa kemana aja
Mushaf, lebih Afdhal
28
Sri Fitriyana Yulianti/MA Ali Maksum
Iya
Mudah saat mau membaca dalam keadaan Dharurat
Mushaf, Sekalian Habis Shalat Magrib
29
Umi Umaroh/IAIN PKL
Tidak
Tidak Tahu
Mushaf
30
Cindy Lestari/IAIN PKL
Iya
Bisa dibuka kapan saja dan dimana aja
Mushaf, Aplikasi hanya untuk cek ayat saat perkuliahan
31
Naefi Yatul Jazila/IAIN PKL
Pernah
Memudahkan mencari ayat dalam keadaan kuliah walaupun dalam keadaan tidak suci
Mushaf, lebih afdhol
32
Sheila Okta Marselina/UIN Syarif
Iya
Mempermudah saat bepergian
Mushaf, lebih Afdhal. Dan otak kita memotret saat kita menghafal
33
Ikmilna Islakiyyah/IAIN PKL
tidak
Lebih enak pakai Mushaf
mushaf
34
Nailis Sa’adah/BUQ Demak
Iya
Lebih Nyaman dibaca dimana aja
Mushaf, karena masih proses menghafal
35
Intan Adila Faza
Iya
Agar bisa dibaca setiap saat
Mushaf, lebih afdhal
36
Fitri Tahta Alfina/PPRQH PKL
Tidak
Ruang tidak cukup
mushaf
37
Iqbal Suhandi/IAIN PKL
Iya
Mudah dibawa kemana-mana sedang kalau mushaf harus wudhu
Aplikasi
38
Luqman/UIN SMH Banten
Iya
Mengaplikasikan android lebih manfaat untuk Ukhrowi bukan hanya duniawi
Mushaf, Aplikasi hanya menjadi media yang lebih praktis
39
Iffatul Bayyinah/IAIN Salatiga
Iya
Memudahkan saat membutuhkan dimanapun
Mushaf, Lebih nyaman dan tidak merusak mata
40
Ilham/PPRM Kudus
tidak
Lebih mantep di mushaf
mushaf
41
Intan Rizqiyani/IAIN Syaikh Nur Jati Cirebon
Iya
Untuk memudahkan membaca apabila tidak membaca mushaf
Mushaf, lebih lengkap dan jelas isinya dari segi lafadz, kandungan maupun tajwidnya
42
Itsam Tsamrotul Fuadah/IIQ Jakarta
Iya
Lebih mudah tadarrus dimana saja dan kapan saja
Mushaf, lebih jernih
43
Mahvia/IIQ Jakarta
Iya
Lebih mudah mudarosah saat bepergian
mushaf
44
Akmal/UIN Malang
Tidak
HP Jadul
Mushaf, sulit pindah ke lain hati
45
Al-Hidayah/UIN Syarif
Tidak
Membaca di HP sering Pusing
Mushaf, sering Membawa Mushaf
46
Rokhim/imam new zeland
tidak
Belum membutuhkan
mushaf
47
Abdulloh kafabihi/PTIQ
Iya
Memudahkan Murojaah sewaktu tidak ada mushaf
Mushaf,
48
Inka F/IIQ Jakarta
Tidak
Tidak suka membaca di android
mushaf
49
Aini Syukriyyah/STAIN Kudus
pernah
Untuk memudahkan, sekarang tidak karena takut kesakralan al-qur’an berkurang
Mushaf
50
Aziz/PTIQ
Iya
Simpel
Mushaf
51
Zahro Salsabila/IIQ
Iya
Memudahkan murojaah saat tida bawa mushaf
Mushaf, lebih mantap
52
Rofi’ah/IIQ
Iya
Supaya bisa dengar bacaan qur’an
Mushaf, lebih enak dibaca
53
Tahiyyaa/IIQ
Iya
Bisa tetap ngaji saat gak bawa mushaf
Mushaf, lebih mudah
54
Khoirul Afiyah/MAS PKL
Pernah
Di uninstal karena jarang buka qur’an setelah install
Mushaf, android untuk terjemah saja
55
Uun Nadhiroh/IIQ
Iya
Bisa membacanya kapanpun dan dimanapun
Mushaf, selagi bisa di jangkau
56
Zian Fauziyah/IIQ
Iya
Merujuk ke mushaf madinah dalam android
Mushaf, Afdhol dan nyaman
57
Dewi Istnaini/IAIN PKL
Iya
Bisa membaca dimana dan kapan aja
Mushaf, lebih mantap
58
Atiqoh/IIQ
Iya
Lebih mudah dibawa
Mushaf lebih mantap
59
Nisa/Jakarta
Iya
Membantu
Mushaf

Sebelum kami menganalisis data, Kami membuat beberapa kriteria untuk memudahkan dalam analisis datanya nanti.
1.      Dalam pertanyaan Instal dan Tidak hanya ada dua jawaban pasti, yaitu : Iya (+) & Tidak (-). Jika jawabannya pernah, maka kami analisis jika alasan tidak instalnya lebih kuat akan kami katagorikan ke tidak Instal, dan jika alasan pernah Instal lebih dominan, maka akan kami masukkan dalam kelompok yang itu.
2.      Alasan Instal maupun tidak, setelah kami analisis kami menjadikannya beberapa kategori.
Instal : (Praktis “dibaca kapan dan dimana aja, mudah dibawa[P], Pemanfaatn HP untuk Akhirat [PA], mudah dalam mencari ayat karena ada pencarian [S], rujukan mushaf madinah [M], Tidak usah Wudhu [W])
Uninstal : (Kesakralan al-Qur’an [S], belum Butuh [B], Ram Kecil dan Hp Jadul [J], kesehatan [KS]) lainnya [LI].
3.      Untuk sering mebacanya:
Mushaf : Lebih Afdhol [LA], proses menghafal [PM], lebih mudah dan mantap nyaman [MMY], Lain [L].
Aplikasi : Sering tidak di rumah [TR].


F.      Kesimpulan
Dari 59 Responden di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:
1.      Prosentasi Instal dan Tidak Instal
No
Jumlah Instal
Jumlah Tidak Instal
01
44
15

Dengan perhitungan tersebut maka prosentasinya :
2.      Alasan Instal dan Tidak Instal
No
Instal
Tidak Instal

P
PA
S
M
W
S
B
J
KS
LI
01
38
1
6
1
4
1
1
4
1
6
02










03











3.      Lebih sering baca dimana?
No
Mushaf
Aplikasi
LA
PM
MMY
L
EB
TR
01
7
2
21
21

2

Dari indikator-indikator di atas dapat kita ambil kesimpulan
1.      Dari 59 responden 74% menginstal aplikasi Al-Qur’an di Handpone dan sisanya tidak
2.      Adapun alasan responden menginstal dan tidak bermacam-macam:
a.       Alasan Instal:
-          Praktis: 64%
-          Pemanfaatan untuk akhirat: 1%
-          Pencarian: 10%
-          Rujukan Mushaf Madina: 1%
-          Tidak Usah wudhu: 6%
Alasan terbesar penginstalan ini di karenakan praktis, bisa di bawa kemana-mana.
b.      Alasan Tidak Instal:
-          Kesakralan, belum butuh, kesehatan: 1%
-          RAM kecil: 6%
-          Lainnya: 10%
3.      Alasan sering membaca di mushaf lebih banyak prosentasenya, bisa dijadikan pedoman bahwa penginstalan aplikasi mushaf dalam handpone tidak mengurangi kesakralan mushaf itu sendiri.


[1] Didi Junaidi, Jurnal Living Qur’an 15